SKETSA | Kuat Maruf
Oleh Syakieb Sungkar
DI KOTA Kyoto, lebih dari 100 tahun yang lalu, ada sosok Samurai terbunuh di pinggir hutan. Seorang penebang kayu mengakui bahwa dia lah yang terlebih dahulu menemukan mayatnya 3 hari yang lalu ketika mencari kayu di hutan. Mula-mula ia menemukan topi milik istri samurai, kemudian ia menemukan juga caping milik samurai yang terbunuh itu. Samurai itu mati dalam keadaan terikat, ia melepaskannya, lalu melaporkan penemuan mayat itu kepada polisi. Ada kesaksian lain, datang dari seorang pendeta, ia melihat samurai dengan istrinya bepergian pada hari yang sama ketika pembunuhan itu terjadi. Penebang kayu dan pendeta itu kemudian dipanggil untuk bersaksi di pengadilan, menghadirkan seorang bandit yang ditangkap. Sang bandit mengaku telah mengikuti pasangan itu setelah tertarik dengan istri samurai ketika ia melihatnya sekilas di hutan.
Bandit itu seorang penjahat terkenal, yang bernama Tajōmaru, ia bercerita bahwa ia menipu samurai untuk pergi ke arah lain, ikut bersamanya, dengan bujukan bahwa ia menemukan sebuah pedang kuno yang berharga. Dalam perjalanan ia menumbangkan samurai itu dan mengikatnya ke pohon, lalu ia membawa lari istrinya dengan tujuan memperkosanya. Pada awalnya samurai mencoba membela diri dengan belati tetapi akhirnya dikalahkan oleh bandit. Setelah diperkosa, untuk menghilangkan rasa malu, istrinya memohon kepada bandit untuk berduel sampai mati dengan suaminya. Agar dapat menyelamatkannya dari rasa bersalah dan malu karena dua pria mengetahui aibnya.
Tajōmaru dengan terhormat membebaskan samurai itu dan berduel dengannya. Dalam ingatan Tajōmaru, mereka bertarung dengan terampil dan sengit. Bandit itu sempat memuji ilmu pedang sang samurai, namun pada akhirnya Tajōmaru berhasil membunuh samurai dan istrinya melarikan diri setelah pertarungan. Di akhir kesaksiannya, bandit itu ditanya tentang belati mahal yang digunakan oleh istri samurai itu. Bandit mengatakan bahwa, dalam kebingungan, ia melupakan semua itu, walau ia tahu ada tatahan mutiara pada gagang belati yang membuatnya sangat berharga. Si bandit menyesal telah meninggalkan belati itu.
Sementara sang istri menceritakan kisah yang berbeda ke pengadilan. Si istri mengklaim bahwa Tajōmaru pergi setelah memperkosanya, ia memohon suaminya untuk memaafkannya, tapi samurai itu hanya menatapnya dengan dingin. Ia kemudian melepaskan tali yang mengikat suaminya dan memohon padanya untuk membunuhnya sehingga ia akan merasa damai. Tetapi samurai terus menatapnya dengan kebencian. Ekspresi suaminya sangat mengganggunya sehingga ia pingsan dengan belati di tangannya. Ketika terbangun ia menemukan suaminya mati dengan belati tertancap di dadanya. Istrinya mencoba bunuh diri tetapi gagal.
Kurang yakin dengan penjelasan sang istri, pengadilan kemudian meminta pertolongan dukun untuk memanggil arwah samurai. Arwah samurai itu bercerita bahwa, setelah si bandit memperkosa istrinya, Tajōmaru meminta istrinya untuk ikut dengannya. Istrinya bersedia, asalkan Tajōmaru mau membunuh suaminya agar ia tidak merasa bersalah menjadi milik dua pria. Mendengar itu Tajōmaru terkejut dan memberi si samurai suatu kesempatan untuk memilih: membiarkan istrinya pergi dengannya atau membunuh saja wanita itu. Istri samurai kemudian melarikan diri, dan Tajōmaru mencoba mengejarnya, tapi tidak berhasil. Samurai itu dibebaskan namun ia kemudian bunuh diri dengan belati istrinya. Belakangan, seseorang mengeluarkan belati dari dadanya, tetapi belum terungkap siapa itu.
Kemudian giliran penebang kayu bersaksi. Ia menyatakan bahwa ketiga cerita itu (istri samurai, arwah samurai, dan bandit) bohong. Penebang kayu mengatakan ia menyaksikan pemerkosaan dan pembunuhan tetapi ia menolak memberi keterangan karena tidak ingin terlibat. Menurut cerita penebang kayu, Tajōmaru memohon kepada istri samurai untuk menikah dengannya tetapi wanita itu malah membebaskan suaminya. Sang suami awalnya tidak mau melawan Tajōmaru, katanya ia tidak akan mempertaruhkan nyawa untuk seorang wanita manja. Tetapi wanita itu kemudian mengkritik suaminya dan Tajōmaru, seraya mengatakan bahwa mereka bukanlah pria sejati. Pria sejati itu akan berjuang untuk cinta seorang wanita. Ia mendesak mereka untuk bertarung satu sama lain tetapi kemudian wanita itu menyembunyikan wajahnya dalam ketakutan begitu mereka mengangkat pedang.Dalam ingatan penebang kayu, kedua pria itu tampak ketakutan saat mereka mulai berkelahi, duel yang dihasilkan jauh lebih menyedihkan dan canggung daripada yang diceritakan Tajōmaru sebelumnya. Bandit itu akhirnya menang melalui keberuntungan dan wanita itu melarikan diri. Tajōmaru tidak bisa menangkapnya tetapi mengambil pedang samurai dan meninggalkan tempat itu dengan pincang.
Kisah di atas berasal dari sebuah cerpen berjudul “In a Grove” yang ditulis Ryunosuke Akutagawa. Kemudian pada tahun 1950 cerpen itu difilmkan dengan judul “Rashomon” yang disutradarai Akira Kurosawa. Film itu dibintangi oleh Toshiro Mifune yang berperan menjadi si bandit Tajōmaru. Rashomon adalah film Jepang pertama yang menerima penghargaan internasional. Film itu memenangkan hadiah Golden Lion pada Festival Film Venesia di tahun 1951. Rashomon juga mendapat Penghargaan Kehormatan di Academy Awards (Oscar) pada tahun 1952. Dan dianggap sebagai salah satu dari film terbesar dunia yang pernah dibuat. Film itu menjadi terkenal karena mempunyai plot yang melibatkan berbagai karakter yang memberikan versi subjektif, alternatif, dan kontradiktif dari suatu insiden. Setiap saksi dalam peristiwa itu memberikan penjelasan yang berbeda-beda bahkan bertentangan dengan kesaksian lainnya.
Bukankah kasus Ferdy Sambo mirip dengan film Rashomon? Dalam menceritakan matinya Yosua, mula-mula Ferdy Sambo mengatakan sebagai akibat tembak-menembak antara Bharada E dengan Yosua karena ia kepergok sedang melecehkan Putri Candrawathi, istrinya. Kemudian Kamaruddin Simanjuntak menyanggah skenario Sambo tersebut karena jenazah Yosua ditemukan keluarganya penuh dengan luka penyiksaan. Dan dibuatlah skenario baru oleh masyarakat bahwa bukan peristiwa pelecehan yang menyebabkan kematian Yosua, tetapi justru Sambo sendiri yang berselingkuh dan hal itu diadukan Yosua kepada Putri. Pengaduan itu membuat Sambo marah dan membunuh Yosua. Kemudian Bharada E mencabut pengakuannya dan menceritakan bahwa yang membunuh Yosua adalah Sambo sendiri dibantu oleh Ricky, ajudannya. Skenario penyebabnya tetap pelecehan terhadap Putri, tetapi di Magelang, bukan di Duren Tiga. Dan tidak ada penyiksaan pra penembakan, karena peristiwa itu terjadi cepat sekali tidak sampai 10 menit. Kalau ada bekas luka pada jenazah Yosua, itu karena hasil sayatan otopsi dan pembuatan saluran untuk formalin. Otopsi pertama dan kedua hasilnya sama saja, Yosua mati karena ada 5 butir peluru yang ditembakkan ke dirinya.
Belakangan adalagi cerita baru berdasarkan penuturan Kuat Maruf, bahwa Yosua tidak melecehkan Putri, namun mereka berpacaran dan bermesraan, yang kemudian dilaporkan Kuat ke Sambo. Hal itu yang memicu Ferdy Sambo berencana untuk membunuh Yosua karena telah membuat aib keluarga. Kuat Maruf yang tinggal di sebuah gang sempit di Kelurahan Cibuluh, Bogor itu adalah warga sipil yang sudah 10 tahun bekerja sebagai supir di keluarga Sambo. Sementara menurut Kamaruddin Simanjuntak, Yosua itu adalah ajudan yang paling disayang Sambo dan istrinya sehingga menimbulkan kecemburuan ajudan lain. Ditambahkan lagi bahwa sekarang ada indikasi bahwa yang dimaksud “Skuat Lama” yang suka mengancam untuk membunuh Yosua adalah Kuat Maruf.
Tetapi akhir-akhir ini ada skenario baru yang berasal dari Deolipa Yumara, mantan pengacara Bharada E. Bahwa yang berpacaran dengan Putri itu bukan Yosua tetapi Kuat Maruf itu sendiri. Ketika mereka sedang bermesraan ternyata kepergok oleh Yosua. Untuk menutupi belangnya, maka Kuat dan Putri mengorbankan Yosua serta melaporkannya kepada Ferdy. Luar biasa, posisi cerita menjadi terbalik, semua bergantung pada para pencerita kisah ini. Sama dengan film Rashomon yang produksinya masih hitam-putih itu, setelah 88 menit kita menonton akhirnya kita tidak tau siapa yang menyebabkan si samurai terbunuh. Demikian pula dengan kisah pembunuhan Duren Tiga ini, sampai pengadilan berakhir, sidang memvonis para pelaku, mungkin kita tetap tidak tahu siapa sebenarnya yang menyebabkan kematian Yosua. Hanya Putri, Yosua dan Tuhan saja yang mengetahui kejadian sebenarnya.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!