SKETSA | Komik
Gambar 3 – Morina karya Taguan Hardjo, terbit tahun 1961.
Popularitas komik Medan perlahan surut setelah munculnya komik-komik silat di Jakarta dan Bandung. Tiba-tiba di Jawa tahun 1968 muncul komik lagendaris seperti serial “Jaka Sembung” yang dibuat komikus Djair, serial “Si Buta dari Gua Hantu” yang dibuat Ganes TH, serial “Kelelawar” yang dibuat Jan Mintaraga dan serial “Golok Setan” yang diciptakan Man. Komik kemudian bergeser dari karya seni menjadi industri dan gaya hidup, hal itu juga merupakan ciri budaya Orde Baru yang pada awalnya membuka kebebasan seluas-luasnya pada segala bentuk seni bacaan. Selain para pendekarnya menjadi bahan cerita anak-anak bergaul di sekolah dasar, para komikusnya juga menjadi idola para remaja, terutama remaja putri di sekolah menengah. Kita dapat melihat pada bagian pinggir dari panel komik kadang-kadang tertera pesan dari komikus kepada pembacanya, tak lupa disertai ucapan “salam mesra” dan gambar hati yang tertusuk panah.
Namun di tahun 1980an muncul trend baru, yaitu komik impor dari Jepang. Komik Jepang menjadi populer diiringi dengan masuknya film-film kartun Jepang di TVRI. Hal itu dapat terjadi seiring dengan mulai banyaknya orang yang mahir menerjemahkan bahasa Jepang, dan dorongan Pemerintah Jepang itu sendiri yang menjadi investor no. 1 di Indonesia. Demikian pula munculnya generasi baru - lahir pada tahun 1970an - yang ketika masuk usia remaja langsung disambut dengan banyaknya komik-komik Jepang yang tersedia di toko buku seperti serial “Candy-candy” dan “Detektif Conan”. Dengan itu komik Indonesia menjadi tidak laku dan perlahan-lahan lenyap ditelan bumi. Sampai sekarang.
Kalau kita merunut kembali masa itu, rupanya ada yang terlupa dari industri komik Indonesia ketika memasuki tahun 80an, yaitu regenerasi. Baik dari segi gambar maupun cerita. Komikus kita terlalu asik dengan dunia persilatan, sampai-sampai para pembacanya capek. Mungkin juga usia tua yang menyebabkan mereka tidak gerak cepat melakukan inovasi merespon zaman yang berubah. Dan para penerbitnya tidak menciptakan generasi komikus baru yang lebih muda, agar sesuai dengan semangat zaman. Zaman ketika remaja 80an terpesona dengan wajah-wajah idola komik Jepang bermata bulat besar dengan kaki panjang yang tidak proporsional. Suatu era globalisasi di mana kebudayaan luar masuk seperti air bah, tidak bisa di tahan-tahan lagi. Kalau tidak kuat membuat inovasi maka budaya kita akan tergilas. Dan itulah yang terjadi dengan komik kita.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!