SKETSA | Jouhatsu

ED
Kamis, 5 Mei 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Jouhatsu

Orang Jepang sudah ditanami sejak kecil mentalitas pentingnya mematuhi peraturan, istilahnya  “atarimae”. Atarimae dalam bahasa Indonesia artinya melakukan perbuatan yang seharusnya, selayaknya dan sepantasnya. Mereka melakukan sesuatu yang benar karena merupakan “atarimae”. Hal yang sudah sepantasnya dilakukan. Misalnya, sudah seharusnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Sudah selayaknya untuk mundur dari pekerjaan jika kita tidak melakukan sesuatu. Dalam banyak hal, pemimpin perusahaan memilih mati ketika gagal melakukan usaha dan kiat-kiat agar situasi korporat tidak bertambah buruk. Atau seorang tua yang menderita karena penyakit dan harus dirawat oleh keluarganya. Mereka tidak ingin merepotkan orang lain sehingga memilih untuk mati. Orang Jepang juga menghargai kejujuran dan integritas. Lebih memilih mati ketika menghadapi sebuah skandal yang menodai nama dan reputasi, karena merasa hal itu sudah sulit untuk ditangani dan diperbaiki.

Novelis favorit saya, Yukio Mishima, juga mati bunuh diri karena kecewa dengan imperialisme Amerika pada Jepang setelah Perang Dunia II. Ia memimpikan Jepang masa lalu yang bersemangat Samurai. Bunuh diri Mishima mengejutkan banyak orang dan masyarakat dunia menyayangkan potensi besar sastrawan itu yang terbuang sia-sia dengan kematian dini. Karenanya Pemerintah Jepang berusaha keras untuk memberi penjelasan dan anjuran ke masyarakat bahwa bunuh diri itu tidak baik dan dilarang. Upaya penyuluhan itu kemudian mendatangkan hasil. Sejak 7 tahun yang lalu angka bunuh diri di Jepang berkurang drastis. Masyarakat mulai menyadari bahwa bunuh diri itu tidak baik.

Namun akhir-akhir ini orang Jepang mepunyai solusi lain untuk menghilangkan dirinya, yaitu dengan cara berpindah kota dan mengganti identitasnya. Sehingga ia tidak dapat lagi dicari dan dikenali. Karena selain ia pindah jauh terpisah dari kota asalnya, beberapa dari mereka melakukan operasi ganti wajah. Jouhatsu dapat terjadi karena ada perusahaan yang memberi jasa untuk membantu mencarikan identitas baru. Jasa seperti itu disebut sebagai Yonige-ya. Biayanya sekitar US$ 2.600,- Diperkirakan terjadi 100.000 kasus Jouhatsu setiap tahun. Penghilangan diri itu bisa disebabkan karena lari dari hutang, pernikahan yang tidak bahagia namun menghindar dari perceraian,  gagal ujian, atau ingin menyelamatkan nama keluarga.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.