SKETSA | Fantastic Beasts
Rowling pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Portugal, dan sebagai orang tua tunggal, ia membawa putrinya pindah ke Edinburgh, Scotlandia. Selama di sana ia hidup susah karena tidak punya pekerjaan. Ketika akhirnya buku Harry Potter selesai, ia mengirimkan naskahnya ke 12 penerbit yang berbeda, namun semua penerbit itu menolaknya. Di tahun 1997, penerbit Bloomsbury akhirnya mau menerbitkan bukunya itu. Nama depan Rowling adalah Joanne, tetapi ia tidak mempunyai nama tengah, seperti kebiasaan orang bule pada umumnya. Akhirnya Joanne menambahkan nama Kathleen – yang sebetulnya nama neneknya – di tengah namanya. Jadilah J.K. Rowling, nama yang kita kenal sekarang, sebagai penulis terkaya di Inggris. Buku Rowling telah diterjemahkan ke dalam 65 bahasa di dunia.
Bagi yang ingin merasakan pengalaman sebagai Harry Potter, kita bisa mengunjungi Museum Harry Potter yang didirikan Warner Bros di London pada tahun 2001. Di sana kita dapat melihat studio penciptaan film, kostum, dekor, lengkap dengan sekolah Hogwarts, stasiun kereta api, dan ikut bermain peran sebagai Harry Potter dalam permainan Quidditch, yaitu bermain sepak bola sambil mengendarai sapu terbang. Kita diajak dalam proses shooting film dan berfoto sebagai kenang-kenangan. Saya pernah berkunjung ke Museum itu di tahun 2019. Sayangnya, sapu terbang tidak boleh dibawa pulang. Tadinya saya sempat berangan-angan menggunakan sapu terbang saja untuk kembali ke Jakarta.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!