SKETSA | Dorna
Oleh Syakieb Sungkar
DORNA adalah manusia pertama yang termakan hoax. Di hari ke 15 Perang Baratayuda ia mendengar kabar anaknya, Aswatama, tewas. Semangat tempurnya hilang seketika. Padahal ia diangkat menjadi Panglima laskar Kurawa sejak hari ke 11, menggantikan Panglima Bisma yang gugur. Dorna langsung murung, meninggalkan medan tempur, dan ingin bersemadi. Di saat ia sedang lemah jiwanya, berjalan dengan lunglai dan kepala tertunduk. Dari belakang, Drestadyumna - Panglima laskar Pandawa - mendekatinya dan memenggal kepalanya. Dorna pernah berkata, ia hanya percaya kepada orang yang jujur. Karenanya Kresna memerintahkan Bima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama. Hoax diluncurkan, Bima kemudian berteriak-teriak di Padang Kurusetra bahwa Aswatama mati. Dorna meminta Yudistira mengecek kebenarannya. Yudistira yang terkenal akan kejujurannya melaporkan bahwa Aswatama memang mati. Yudistira tidak berbohong namun informasi yang disampaikan ke Dorna kurang lengkap. Itulah titik kekalahan Kurawa, semangat hidup Dorna telah lenyap, sehingga mentalitas tentara menjadi turun.
Situasi di kamp Kurawa ba’da Isya itu memang muram. Langit gelap, hanya obor yang menerangi pengobatan pasukan yang luka-luka. Mereka terngiang peristiwa tadi sore, ketika Drestadyumna mengangkat kepala Dorna yang telah terpisah dari badannya ke hadapan orang banyak. Para Kurawa terpana, sementara pasukan Pandawa kaget setengah menjerit. Hidung Dorna yang panjang itu tak terlupakan, dengan mata yang mendelik seolah masih bisa memandangi orang-orang di sekelilingnya satu persatu. Rambutnya dijambak tinggi-tinggi sedangkan dari leher yang terpanggal itu, darah masih deras menetes. Pasukan Kurawa bingung dengan jalan peperangan esok hari. Hanya tinggal tiga Senopati saja yang tersisa: Aswatama, Krepa dan Kertawarma. Apakah mereka dapat memenangkan pertempuran selanjutnya. Demikianlah Perang, akhirnya semua rusak binasa. Kitab Mahabrata mencatat Baratayuda tuntas pada hari yang ke 18.
Kepribadian Dorna dalam kisah pewayangan Jawa berbeda dengan kitab Mahabrata yang asli. Di Jawa, Dorna digambarkan sebagai orang yang berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicara dan bermuka dua. Itulah dulu mengapa di zaman kejatuhan Orde Lama, Menteri Subandrio digambarkan sebagai Dorna, tokoh yang licik dan jahat. Sementara Dorna yang sesungguhnya adalah seorang Brahmana, ahli agama yang dihormati, guru untuk kedua belah pihak: Pandawa dan Kurawa. Dorna adalah ahli seni pertempuran dan mengajarkan cara mengendalikan senjata pusaka, seperti tokoh Dumbledore dalam cerita Harrry Potter. Ia mempunyai keris sakti yang bernama Cundamanik dan panah Sangkali, panah itu kemudian dihadiahkan kepada Arjuna. Arjuna memang murid kesayangan Dorna. Namun dalam Perang Baratayuda, Dorna akhirnya memilih bergabung dengan Kurawa, yang telah memberinya nafkah dan tempat bernaung selama ini. Di zaman Dorna muda, ada seorang tokoh sakti bernama Parasurama. Tokoh ini mengumumkan akan membagikan seluruh pengetahuan yang ia miliki kepada siapa saja yang datang padanya. Dorna adalah orang yang datang terakhir, namun semua ilmu pengetahuan sudah habis dibagikan, hanya Ilmu Perang yang tersisa. Kemudian Parasurama menyerahkan ilmu perangnya kepada Dorna. Itulah sebabnya Dorna mempunyai keahlian dalam strategi perang.
Selain mendapat ilmu dari Parasurama, Dorna belajar ilmu agama dan militer bersama dengan Drupada, seorang Pangeran dari Kerajaan Panchala. Keakraban mereka berdua menyebabkan Drupada berjanji kalau ayahnya meninggal maka Dorna akan diberikan separuh kerajaan peninggalan orang tuanya. Ketika dewasa, Dorna menikahi Krepi, adik seorang guru di negara Astina. Setelah memiliki anak yang bernama Aswatama, Dorna ingin memperbaiki nasibnya yang miskin. Ia datang ke Panchala, menemui Drupada yang sudah menjadi Raja, menagih janji yang akan memberikan separuh kerajaan. Namun Drupada menolak, ia ingkar pernah berkawan dengan Dorna di masa lalu. Kecewa dengan Drupada, Dorna pergi ke Astina ingin menemui Krepa, iparnya. Setelah mendemonstrasikan keahliannya, ia kemudian diangkat menjadi guru militer para Pangeran Kuru, yaitu Pandawa dan Kurawa. Setelah lama mengajar di Astina, Dorna ingin mengetest kemampuan murid-muridnya. Ia meminta Pandawa dan Kurawa datang ke Panchala untuk menangkap Drupada. Arjuna lah yang berhasil menjinjing Drupada ke hadapan Dorna. Dorna menagih janji Drupada dan mengambil separuh kerajaan Panchala. Drupada yang tidak puas, kemudian bersumpah bahwa kelak anaknya, Drestadyumna, akan mengalahkan Dorna kalau terjadi perang di masa depan.
Sikap politik Dorna sebelum Perang Baratayuda sangat jelas berpihak pada kejujuran dan kebenaran. Ia terang-terangan menyatakan ketidaksetujuan atas kekejaman Duryudana yang mengasingkan para Pandawa. Walau ia Panglima Kurawa sejak pertempuran hari ke 11, Dorna selalu berupaya menghentikan perang. Dorna berusaha menangkap Yudistira yang merajalela di Kurusetra. Jika aksi Yudistira bisa diredam, maka upaya damai di Kurusetra akan mendapat titik terang. Dorna akan segera menggelar rapat A-20, yang isinya 20 Pangeran Astina, yang terdiri dari para tokoh Pandawa dan Kurawa untuk duduk berunding bersama. Rapat akan disupervisi oleh para tetua dari PWW, yaitu Perserikatan Wangsa Wangsa atau Persatuan Wayang Wong. Di mana Semar dan Hanoman akan bertindak sebagai Event Organizer.
Tetapi niat ini gagal, karena upaya Dorna menangkap Yudistira selalu dihalang-halangi Arjuna, murid kesayangannya, yang telah ia turunkan seluruh ilmunya. Pada pertempuran hari ke 13, Dorna menggunakan formasi perang melingkar yang disebut Cakrabyuha. Namun percuma, Arjuna dan Kresna telah mengetahui cara membobol formasi Cakrabyuha. Agar formasi tidak bobol, Dorna menyiapkan prajurut Trigarta untuk membuat sibuk Arjuna dan Kresna. Langkah Dorna membuat Arjuna dan Kresna sibuk berhasil. Karenanya Abimanyu, anak Arjuna, tampil memimpin pasukan untuk membobol Cakrabyuha. Mengetahui Abimanyu maju ke lapangan, Dorna menurunkan Jayadrata untuk menghadapi Abimanyu. Abimanyu ternyata pemuda yang tangkas, ia membuat Jayadrata kepepet. Karenanya Dorna memerintahkan para Kurawa membunuh kuda dan kusir kereta Abimanyu, sehingga alat manuvernya terlucuti. Dengan itu Abimanyu akhirnya gugur. Gugurnya Abimanyu ini yang memicu pemikiran baru para Pandawa untuk mengalahkan Dorna dengan hoax. Ada sepuluh aturan yang harus dipatuhi dalam Perang Baratayuda dan aturan ini sudah diumumkan jauh hari sebelum jadwal perang ditetapkan. Salah satunya adalah dilarang berbohong. Namun perang biasanya akan liar dalam pelaksanaannya, apapun akan dilakukan asal bisa menang. Aturan dan etika pada akhirnya dilanggar serta dilupakan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!