SKETSA | Blois
Memang benar apa yang dikeluhkan teman saya itu, setelah melalui negosiasi yang panjang akhirnya Alcatel melakukan merger dengan Lucent (dulu namanya AT&T) di tahun 2006, demi menghentikan perdarahan keuangan yang parah. Namun merger itu tidak banyak menolong. Di tahun 2016, perusahaan gabungan itu berujung diakuisisi oleh Nokia seharga 16 milyar US$. Dengan itu, Nokia kemudian menghilangkan 1200 jenis pekerjaan yang tumpang tindih. Tidak terbayangkan berapa ribu karyawan yang dipecat karena akuisisi tersebut.
Kecenderungan zaman sekarang tidak memberi tempat lagi kepada perusahaan yang tidak efisien. Hanya perusahaan spesialis saja, seperti Cisco, yang khusus memproduksi modem, bisa survive. Perusahaan yang menciptakan produk aneka ragam layaknya supermarket, biasanya akan ambruk karena membutuhkan biaya besar dalam R&D yang hasilnya belum tentu sukses. Kita juga melihat komputer IBM sudah tidak ada lagi, karena tidak mampu bersaing. Ujungnya di tahun 2005, IBM dijual ke perusahaan Taiwan yang lebih kecil, dan mereknya berubah menjadi Lenovo.
Malam akhirnya larut, pantulan sinar bulan berkilau di riak sungai Loire, yang kami lewati ketika menuju tempat parkir. Saya bertemu Lizbeth beberapa tahun kemudian pada sebuah konferensi di Hongkong, perawakannya tetap kecil seperti perempuan Perancis pada umumnya. Ia sudah tidak di Alcatel. Namun kali ini tidak ada lagi dinner karena pesawat telah menunggu untuk menerbangkan kami pulang ke negeri masing-masing.***
(Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id).
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!