SKETSA | Bioskop Dian
Pada tahun 1961, aktivis urban Jane Jacobs mengejutkan para perencana kota dengan bukunya, “The Death and Life of Great American Cities”, di mana Jacobs membahas kemungkinan melakukan bisnis pada usaha-usaha tertentu, apabila berlokasi di gedung-gedung tua. Usaha yang cocok menurutnya adalah toko buku, restoran, café, toko souvenir, barang antik, pub, dan perkantoran. Hal itu telah dicobakan dan berhasil pada gedung bekas kantor Imigrasi yang dahulu bernama Bataviasche Kunstkring yang berlokasi di jalan Teuku Umar, Jakarta. Di tahun 2013, gedung yang berumur seabad itu dijadikan restoran dan tea house yang mewah serta elegan bernama Tugu Kunstkring Paleis. Di bagian tengah gedung yang cukup luas seringkali dijadikan ajang lelang karya seni dan pembukaan pameran, di mana tembok-tembok gedung itu dijadikan tempat memajang lukisan. Artinya gedung tua dapat difungsikan kembali sesuai fungsi sosial budayanya di masa lalu. Saya sendiri pernah membuka pameran lukisan Odji Lirungan di gedung itu tahun 2014.
Melihat apa yang dilakukan oleh seniman Tisna Sanjaya yang berjuang sendirian untuk menghidupkan bioskop Dian sebagai ruang budaya, hati saya terharu. Tisna dan kawan-kawan membersihkan bioskop yang kumuh itu, untuk kemudian melakukan pameran tunggal, pameran bersama, film screening, diskusi, secara mandiri, tanpa support dari Pemerintah. Walau acara tersebut terkesan sederhana, dengan dukungan kursi belang-bentong ala kadarnya, namun terlihat mereka berbahagia dan lebih menghargai the old heritage dari Kota Bandung tercinta ketimbang gubernurnya.
Mengapresiasi seni dapat membantu kita melampaui diri sendiri dan menemukan apa yang menjadi karya orang lain dengan cara yang mendalam. Sementara karya seni dapat beresonansi dengan emosi, karena sesuatu yang kita alami ketika melihat karya seni, dapat membantu memahami pikiran dan emosi si seniman juga. Setidaknya itulah yang dikatakan Adorno, dan dilakukan Bung Karno jauh sebelumnya. Sehingga ia mengumpulkan karya seni dan mendidik orang lain untuk ikut menghargainya. Seandainya bioskop Dian itu dapat dilestarikan dan digunakan sebagai tempat artistik yang bermanfaat seperti yang disarankan Jane Jacobs, niscaya gedung itu akan dinikmati orang banyak, terhindar dari kerusakan, dan menjadi sarana pendidikan seni generasi muda untuk menghargai warisan bangsanya.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!