SKETSA | Benturan Peradaban (V)
Oleh Syakieb Sungkar
KETIKA memasuki abad XXI, Barat, terutama Amerika Serikat, dengan bantuan Inggris dan Perancis, mampu melakukan intervensi militer dan nampaknya hanya Amerika Serikat yang memiliki kemampuan untuk melakukan bombardir udara di sebagian wilayah dunia. Itulah kekuatan militer Amerika sebagai kekuatan global. Barat pun pada akhirmya menjadi peradaban yang dominan di dunia. Di masa yang akan datang, perlombaan senjata konvensional antara Barat dengan negara-negara di dunia lainnya tampaknya akan sepenuhnya dimenangkan Barat.
Baca juga
SKETSA | Benturan Peradaban (IV) SKETSA | Benturan Peradaban (III) SKETSA | Benturan Peradaban (II) SKETSA | Benturan Peradaban (I) SKETSA | Blois SKETSA | Ukraina SKETSA | WAG SKETSA | Facebook
Barat mempropagandakan nonproliferasi (pembatasan senjata) sebagai upaya untuk merefleksikan kepentingan-kepentingan bangsa-bangsa di dunia demi tercapainya tatanan dan stabilitas internasional. Sementara masyarakat non-Barat melihat kebijakan nonprofilerasi sebagai upaya melayani kepentingan-kepentingan hegemoni Barat. Buktinya, selama tahun 1995, Amerika dan masyarakat Eropa tampaknya tetap berpegang pada kebijakan represif. Hal yang tidak disadari oleh Amerika, bahwa kebijakan seperti itu justru telah memicu perlawanan dari akar rumput. Sebuah gerakan yang sudah mempunyai akar pada paska Perang Dunia I yang menyebabkan kejatuhan Turki.
Apa yang belum terdapat dalam paper The Illogical Logic di atas adalah elaborasi terhadap gerakan akar rumput yang lintas negara dalam kawasan Timur Tengah. Setelah berkuasa hampir delapan ratus tahun, kekaisaran Utsmaniyah hancur pada tahun 1924 – mengikuti kekalahan Turki pada Perang Dunia I - sekaligus menandai munculnya Timur Tengah modern. Intervensi Eropa mengubah struktur internal masyarakat Muslim dan memunculkan konsep negara-bangsa. Pemerintahan kolonial dinilai merusak keseimbangan institusi sistem masyarakat pra-modern dan menimbulkan kemunduran kekuatan politik masyarakat Muslim di Timur Tengah. Kondisi tersebut melahirkan gerakan-gerakan yang memperjuangkan kepentingan Islam. Gerakan-gerakan ini memandang bahwa Islam harus menjadi fondasi negara dan nilai-nilai Islam harus ditegakkan secara penuh karena dianggap sebagai satu-satunya solusi dalam mencapai kejayaan masyarakat Muslim, sebagaimana spirit kesejarahan yang pernah tercatat pada masa lalu.
Gerakan pertama yang ingin melawan dominasi Barat terhadap Timur Tengah adalah Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir oleh Hasan Al Banna pada tahun 1928. Al Banna bercita-cita mengakhiri sistem partai dan mengarahkan komunitas politik kepada interpretasi teologis teks-teks Islam. Dalam pandangan Al Banna, sistem partai politik adalah berbahaya, dan menyebabkan perselisihan serta kejahatan dalam masyarakat, yang mengancam jalinan komunitas Islam. Keterlibatan Ikhwanul Muslimin dalam ranah politik bertujuan untuk memperkuat hubungan antara kalangan Islam di negara lain, terutama di seluruh wilayah Arab. Ikhwanul Muslimin menjadi ekstrem ketika Sayyid Qutb memunculkan pemikiran radikal yang mendorong perlawanan frontal terhadap rezim yang dipandang telah menyengsarakan rakyat. Qutb bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1951 dan dalam organisasi tersebut ia mengembangkan pemikiran tentang perlawanan terhadap Barat yang disebutnya jahiliyah. Qutb memandang bahwa pemerintah Mesir tidak Islami, sehingga harus dilawan agar mau menerapkan sistem Islam dalam pemerintahan.
Berkembangnya Ikhwanul Muslimin seiring dengan berdirinya negara Israel yang mengambil sebagian dari tanah Palestina. Pengambilan tanah Palestina ini telah menimbulkan kemarahan dunia Arab. Ali Jadd al Haqq – seorang ulama terkemuka Al Azhar, misalnya, telah menyatakan bahwa kekuatan kolonial yang pernah menjajah negara-negara Arab masih ingin meneruskan penjajahan mereka melalui tangan Zionisme Internasional. Ironisnya, Abdullah - raja Jordania sebagai pemilik tanah yang sesungguhnya, tidak mempedulikan suara kemarahan akar rumput tersebut. Baginya, Palestina hanyalah sebuah desa, sementara tanah Jordania masih luas. Sikap seperti itu merupakan cerminan dari sang raja yang dibesarkan oleh Inggris. Abdullah menjadi penguasa Jordania pada tahun 1921, setelah ia bekerjasama dengan Inggris menumbangkan kekuasaan Ottoman.
Kiranya sikap Abdullah ini yang membuat pemikiran Ikwanul Muslimin tentang penumbangan rezim-rezim korup didikan Barat di Timur Tengah menjadi valid. Abdullah kemudian dibunuh oleh para pemberontak Palestina pada tahun 1951 ketika sedang mengunjungi mesjid Al Aqsha di Jarusalem. Ia digantikan oleh Talal, anaknya. Gerakan Ikhwanul Muslimin ini, walau organisasinya dibubarkan dan pemimpinnya ditangkapi, tetap saja tumbuh. Setidaknya di dalam Mesir sendiri, gerakan ini pernah membuat rezim berganti dengan membunuh Presiden Anwar Sadat di tahun 1981 karena inisiatifnya untuk berdamai dengan Israel. Dan Ikhwanul Muslimin pula yang telah menjadikan Mohammad Morsi sebagai Presiden Mesir yang kelima di tahun 2012.
Al Qaeda
Pengaruh Ikhwanul Muslimin juga merambah ke Saudi Arabia, ketika Osama bin Laden -seorang konglomerat Saudi, sering mendengarkan ceramah radikal dari Muhammad Qutb, saudara laki-laki Sayyid Qutb. Pada mulanya ia adalah partner dari Amerika dalam menumbangkan rezim Soviet di Afghanistan. Di Tahun 1984 Osama mendirikan Al Khifah, suatu jaringan penggalangan dana dan perekrutan personel jihadis di Arab, Eropa dan Amerika untuk membebaskan Afghanistan. Al Khifah ini yang menjadi cikal bakal Al Qaeda di kemudian hari.
Seiring dengan banyaknya korban yang berjatuhan di Timur Tengah karena serangan dan campur tangan Amerika dan kedekatan yang semakin dalam dengan Israel, Osama kemudian berbalik arah. Pada tahun 1998, Osama mengeluarkan sebuah fatwa yang ditujukan kepada semua Muslim untuk mendapat imbalan dari Tuhan dengan mematuhi perintah untuk membunuh orang Amerika dan menjarah harta mereka dimana pun dan kapan pun mereka menemukannya. Osama meninggal pada tahun 2011, ketika pasukan khusus Amerika menemukan persembunyiannya di Pakistan. Osama mempunyai peran dalam pendirian negara Islam di Irak ketika ia membiayai Abu Musab al-Zarqawi - salah seorang rekrutannya di Afghanistan, untuk mendirikan “Al Qaeda cabang Irak” di tahun 2004. Organisasi itu berkembang luas setelah dipicu oleh invasi Amerika ke Irak di tahun 2003.
Luput dari Radar Amerika
Pergerakan akar rumput seperti Ikhwanul Muslimin dan Al Qaeda selalu luput dari radar Amerika karena orang-orang Arab menganggap Barat adalah intruder. Jaringan spionase yang disebar Amerika pada orang-orang Arab tidak bisa efektif karena selain menggunakan teknologi telekomunikasi tinggi, sistem sel dan struktur komando yang berantai, pada jihadis menuntut kesetiaan yang mutlak dari pemimpinnya. Keberadaan Osama baru diketahui setelah dicari selama 10 tahun, membuktikan kelemahan intelijen dan sulitnya Amerika membaur dengan masyarakat Arab. Hal yang sama terjadi ketika Amerika ingin menulusuri jejak Vietcong di Vietnam.
Karenanya Amerika selalu mengandalkan serangan udara, drone dan pemusnahan berskala luas atas suatu daerah yang dicurigai sebagai sarang teroris, hal itu dapat menimbulkan ketidakakuratan informasi dan kesalahan identifikasi keberadaan ‘musuh’. Dan dapat diprediksi bahwa yang menjadi korban serangan adalah rakyat biasa, yang mana hal itu menjadi sumber kebencian dari warga Arab serta memunculkan benih-benih pejuang baru untuk melawan Amerika.
Pembagian Zona Timur Tengah
Pertama kali Timur-Tengah didefinisikan sebagai konsep geopolitik dimulai sejak Perang Dunia II oleh Alfred Thayer Mahan, seorang ahli strategi angkatan laut AS. Ia mendefinisikan Timur Tengah sebagai kawasan di sebelah Timur sekitar gurun bekas Kekaisaran Ottoman. Namun apa yang terjadi sekarang kita melihat Timur Tengah yang bisa dibagi atas beberapa zona. Dalam pengamatan saya, Timur Tengah setidaknya dapat dibagi atas 4 zona, di mana perlakuan Amerika terhadap zona-zona tersebut berbeda satu sama lain.
Zona 1 – Di mana berisi Saudi Arabia yang menjadi penghasil minyak terbesar dunia dengan posisi yang sangat strategis, diapit oleh Laut Merah dan Teluk Persia (gambar 1). Di Arab Saudi ada Kabah sebagai pusat pemersatu orang Islam dunia. Karenanya Amerika Serikat terus menerus menjaga Arab Saudi agar jangan sampai lepas dari pengaruhnya. Bahkan bila ada pemberontakan akar rumput yang ingin menumbangkan Kerajaan, maka Amerika Serikat dengan sigap turun tangan sampai tentaranya masuk ke tanah Mekah.

Zona 2 – Adalah negara-negara Teluk, yang terdiri atas Kuwait, Bahrain, Qatar, UAE, Dubai dan Oman (gambar 2). Negeri-negeri kaya minyak ini kecil ukurannya secara geografis, namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang juga sedikit maka pendapatan perkapitanya menjadi tinggi. Ada kesadaran dari negara-negara Teluk bahwa cadangan minyak akan habis sehingga mereka berusaha mengembangkan sumber lain seperti perdagangan, pariwisata dan ekspansi investasi ke luar negeri. Bahkan Dubai menginvestasikan sejumlah besar uangnya untuk menjadikan negerinya sebagai negara modern yang menjadi hub lalu lintas perdagangan Timur Tengah. Secara umum negeri-negeri Teluk adalah negeri yang penurut dengan Amerika. Apalagi setelah Irak menyerang Kuwait di tahun 1990 karena tertarik mencaplok minyaknya dan memperluas akses ke teluk Persia - sebagaimana terlihat pada peta di gambar 2, pantai Irak sangatlah sempit, lebarnya cuma 19 km.
Bagaimana dengan zona lainnya? Kita lanjutkan besok... ***
- Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!