Serangan Ransomware Diprediksi Capai Puncaknya di 2024, Pemerintah AS Ambil Tindakan Mencegah Ancaman
ED
Editor
Shinta Dewi P
Selasa, 22 Oktober 2024 | 06:15 WIB
VISI.NEWS | AMERIKA - Serangan ransomware mengalami lonjakan signifikan dan diperkirakan akan menjadi yang terburuk sepanjang tahun 2024. Pemerintah Amerika Serikat kini tengah mencari cara untuk melawan ancaman serius ini, dengan desakan untuk menerapkan strategi yang lebih efektif untuk menghadapi para hacker yang meminta pembayaran tebusan.
Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan di Financial Times, Ann Neuberger, wakil penasihat keamanan nasional AS untuk siber dan teknologi baru, mengecam praktik pembayaran tebusan yang dinilai meresahkan. Ia menegaskan, "Ini adalah praktik yang meresahkan yang harus diakhiri,"
Darren Williams, pendiri BlackFog, sebuah firma keamanan siber yang fokus pada pencegahan ransomware, juga menentang keras pembayaran tebusan. Ia berpendapat bahwa dengan membayar tebusan, perusahaan atau lembaga justru mendorong lebih banyak serangan ransomware di masa mendatang. Ia menyatakan, "Setelah data sensitif dicuri, data tersebut tidak akan kembali dan akan hilang selamanya." Bahkan saat perusahaan memilih untuk membayar, tidak ada jaminan bahwa data tersebut akan tetap aman.
Contoh nyata dari masalah ini terjadi pada UnitedHealth Group setelah anak perusahaannya, Change Healthcare, diserang oleh kelompok peretas ALPHV/BlackCat pada bulan April 2023. Meskipun telah membayar uang tebusan sebesar US$22 juta (RP 341 miliar) untuk mencegah kebocoran data dan memulihkan operasional dengan cepat, kelompok hacker kedua, RansomHub, merasa marah karena ALPHV/BlackCat gagal mendistribusikan uang tebusan kepada afiliasinya. Hal ini mengakibatkan kebocoran data di dark web, menunjukkan bahwa tuntutan itu mungkin besar kemungkinan tidak dipenuhi.
Ada juga kekhawatiran bahwa pembayaran tebusan dapat digunakan untuk mendanai organisasi yang berlawanan dengan kepentingan geopolitik AS. Laporan terbaru dari Kantor Direktur Intelijen Nasional memperlihatkan bahwa pada pertengahan 2024, ada lebih dari 2.300 serangan ransomware yang terdeteksi, dengan hampir setengah dari serangan tersebut menargetkan lembaga di Amerika Serikat.
Diperkirakan bahawa jumlah serangan ransomware pada akhir tahun 2024 akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2023, yang mencatat sebanyak 4.506 penyerangan secara global. Meningkatnya serangan ini memicu kebangkitan langkah-langkah keamanan yang lebih tegas dari pemerintah dan entitas swasta untuk melindungi data dan infrastruktur kritis dari serangan di masa mendatang. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!