Secercah Harapan Pemulangan Wildan Rohdiawan dari Myanmar
VISI.NEWS | BANDUNG – Harapan untuk memulangkan Wildan Rohdiawan, warga Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Myanmar, semakin menguat. Wildan sebelumnya dijanjikan pekerjaan di Korea Selatan, tetapi justru diselundupkan ke Myanmar dan dipaksa bekerja sebagai penipu online.
Wildan berangkat ke Thailand pada November 2022 setelah menyelesaikan kursus bahasa Korea di Sukabumi. Ia diberitahu bahwa akan bekerja di anak perusahaan Korea yang berbasis di Thailand. Namun, setelah tiba di Thailand, ia justru dipaksa naik kapal dan dikawal oleh orang bersenjata menuju Myanmar.
Di Myanmar, Wildan diperlakukan secara tidak manusiawi. Ia diharuskan bekerja selama 20 jam sehari tanpa istirahat yang cukup dan makanan yang layak. Selain itu, ia juga mengalami penyiksaan, termasuk pemukulan, penjemuran di bawah terik matahari, serta penyetruman. Keinginannya untuk berhenti bekerja dan pulang ke Indonesia dihadapkan pada tuntutan uang tebusan sebesar Rp 150 juta.
Pada Juni 2023, Wildan berhasil menghubungi keluarganya dan meminta bantuan untuk dipulangkan. Pihak keluarga pun berupaya mencari pertolongan dari pemerintah dan lembaga terkait. Namun, hingga saat ini, proses evakuasi Wildan masih menghadapi berbagai kendala.
Salah satu hambatan terbesar adalah lokasi Wildan yang berada di Myawaddy, daerah konflik bersenjata antara militer Myanmar dan kelompok pemberontak. Situasi ini membuat otoritas Myanmar kesulitan untuk masuk ke wilayah tersebut, sementara jaringan komunikasi juga sangat terbatas.
Yulia Rosiana (34), adik Wildan, mengungkapkan keheranannya mengapa negara lain bisa dengan cepat mengevakuasi warganya dari Myanmar, sementara Indonesia masih mengalami kendala. Ia berharap pemerintah segera bertindak agar kakaknya bisa kembali ke tanah air setelah lebih dari setahun menderita di sana.
Saat ini, tim terpadu dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), KBRI Bangkok, dan KBRI Yangon sedang berupaya memulangkan 554 WNI yang menjadi korban TPPO di Myawaddy. Tim ini tengah berada di Maesot, kota perbatasan Thailand-Myanmar, untuk berkoordinasi dengan otoritas setempat guna memperlancar proses repatriasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!