REFLEKSI | Silaturahmi Membantu Kita
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
SILATURAHMI merupakan ajaran mulia yang Islam ajarkan, untuk dijalankan agar manusia satu sama lain saling membangun hubungan baik, hubungan positif, hubungan yang saling menguatkan, sehingga rasa keakraban, kekeluargaan, bisa muncul dan membuat kita memiliki kedekatan.
Secara bahasa, silaturahmi berasal dari kata shilah yang memiliki arti hubungan dan rahim artinya kerabat. Rahim sendiri juga berasal dari kata Ar Rahmah yang berarti kasih sayang atau menjalin kekerabatan.
Hal ini sebagaimana dalam salah satu hadits, yang artinya ; "Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang putus." (HR Bukhari)
Membangun Silaturahmi adalah membangun pondasi kekuatan persaudaraan, pertemanan, dan hubungan baik.
Yang pada saat kita sangat membutuhkan bantuan, kita akan dibantu, karena sebelumnya kita dikenali dari jalan silaturahmi yang telah kita lakukan.
Khususnya kita mendapat uluran tangan, bantuan, dari saudara terdekat kita dahulu, karena, orang yang pertama memiliki rasa tanggung jawab untuk membantu saudaranya yang sedang dalam kesulitan adalah sanak saudaranya, para famili nya.
Maka sebelum ke yang lain, saudara kita pastinya akan mengusahakan terlebih dahulu, membantu saudaranya, sehingga ia yang dalam kesulitan, bisa menatap masa depannya lagi, dan bangkit dari keterpurukannya.
Pun teman dekat, bisa jadi adalah orang yang mau membantu temannya yang dalam kondisi perlu bantuan, hal ini dilandasi adanya hubungan baik sebelumnya, sehingga, ketika ia memiliki peluang untuk membantunya, ia bisa mengentaskan temannya dari kesulitan hidup yang teralami.
Begitupun para tetangga yang mengetahui kesulitan tetangga lainnya, untuk tetangga yang mampu, dan diberi kecukupan harta, rezeki, pastinya akan menolong tetangganya yang tengah dalam ujian Allah.
Lalu ketika kita dekat dengan para alim ulama, orang-orang Soleh, saat kita ada dalam keterpurukan, mereka setidaknya memberi kita kesadaran keimanan pada diri kita, agar kita tetap kuat menanggung cobaan dariNya, sambil tentunya merekapun mengusahakan jalan keluar terbaik bagi kita, sesuai kemampuan mereka, dibarengi panjatan doa permohonan, agar kita diberi jalan keluar secepatnya dari kesulitan, dan beban hidup yang kita alami.
Maka dekat dengan mereka saat kita terpuruk, tidak membuat kita goyah keimanan, tapi tegar kita menghadapi ujianNya.
Siapa saja yang harus kita kuatkan dalam hubungan silaturahmi ini ; 1. Saudara dari pihak ayah ibu kita, famili semuanya, apakah itu kakak dari ayah ibu kita, yakni Uwa kita, adik ayah atau atau adik ibu kita, paman dan bibi, para sepupu-baik anak dari uwa kita atau putra dari paman dan bibi kita, dan tentunya kakek dan nenek kita, Serta saudara dari kedua kakek dan nenek kita. 2. Teman-teman main kita di lingkungan tempat kita tinggal, teman satu sekolah, teman kelas, teman saat kita kuliah, maupun rekan dalam satu tempat kerja, maupun yang satu organisasi. 3. Teman seiman, yang sama dalam keyakinan kita. 4. Para tetangga yang menjadi orang-orang terdekat di lingkungan kita tinggal. 5. Para guru, para ulama, yang menjadi panutan kita dalam beragama, dan berkeyakinan.
Apa yang harus kita bangun untuk menguatkan nilai kita, saat kita dalam posisi terpuruk, dan silaturahmi yang kita buat, mampu mendapatkan respect, empati dari Saudara, teman, tetangga, dan orang-orang lainnya ; 1. Membangun karakter diri kita yang dikenali baik oleh semua orang. 2. Memperlihatkan diri kita sebagai orang yang dapat dipercaya. 3. Dikenali kesolehan pribadinya. 4. Memiliki keutamaan dan keterampilan, sehingga menjadi ciri khas diri kita, saat orang mau dan akan menolong kita, mereka bisa menempatkan kita sesuai bidang keahlian yang sebelumnya kita punya. 5. Dikenali sebagai orang yang pekerja keras, tidak malas. 6. Dikenali sebagai orang yang mau mendengar saran, pendapat, dan masukan, yang membuat orang lain tidak sungkan mengeluarkan nasehat, dan masukan buat kita.
Begitulah silaturahmi bisa menjadikan jalan bagi kita, atau siapa saja yang sedang dalam keadaan tidak beruntung dalam kehidupannya, terbantu karena jalan mau bersilaturahmi.
Dalam posisi kita di uji, ikhtiarlah dengan jalan mau bersilaturahmi, baik pada keluarga, teman, atau orang lainnya yang pernah kita kenali, itu sebagai jalan awal, agar Tuhan membuka jalan bagi kita keluar dari kesulitan kita.
Kita tak boleh berdiam diri. Menunggu keajaiban bukanlah jalan yang diajarkan Rasulullah. Perkuat silaturahmi saat kita masih memiliki waktu, memiliki harta, kekuasaan, jabatan, dan kelapangan.
Sehingga ketika roda berputar, dan Allah menguji kita dengan keterpurukan, orang yang pernah kedatangan kita dulu saat kita silaturahmi padanya, setidaknya menginggat kita dan mau membantu kesulitan kita.
Dan untuk itu, Nabi SAW mengajarkan kepada kita, selagi kita hidup, hendaklah kita dikenal sebagai orang yang mulia, berahlaq dan berbudi luhur, baik pada siapa saja, dan tidak pernah menyakiti orang lain, baik dengan lisannya, maupun dengan tangan kita, berbuat kerusakan.
Jadilah manusia baik yang tidak sombong, maka ia akan dikenali manusia lainnya, dan didekatkan pula dengan orang-orang baik disekelilingnya, insya Allah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!