REFLEKSI | Salah Jalan
Sedangkan, mereka yang berkubang dalam jalan yang salah, walau mereka tahu itu adalah jalan pekat, hitam, dan gelap, dan jalan yang salah yang mereka pilih, bagi mereka, itu seperti sebuah pilihan yang tak ada lagi pilihan lain selain jalan itu.
Hingga akhirnya, mereka mau tak mau bergumul di jalan itu. Jalan yang mereka rasa baik, walau kadang taruhannya harus jiwa mereka sendiri.
Lalu apakah mereka gembira, dan senang ?
Ternyata, keadaan di jalan yang mereka pilih ini, selalu membawa dirinya pada perasaan was-was, cemas, ketakutan, khawatir, yang membuat hidupnya, terasa selalu berhadapan dengan bahaya.
Hingga, perasaan-perasaan yang berkecamuk tersebut, membawa hati mereka jauh dari mendapatkan ketentraman bathin, dan jauh dari ketenangan bathinnya, dan ini membawa diri mereka dalam kegelapan hati, hingga berdampak pada perilakunya yang keras, emosional, dan tak terkontrol.
Orang-orang yang salah jalan, walau di mata orang lain secara duniawi, mereka serba berkecukupan, tapi hati mereka sebenarnya sangat gersang, tandus, hingga merasakan dunia ini hampa, dan sangat sepi mencekam, mereka merasa ada dalam kesendirian tak berujung, sampai mereka akhirnya menghadapi kekalutan-kekalutan jiwa, yang entah apa obatnya.
Salah jalan, bukan berarti sesuatu yang mampu membuntukan ! Mereka yang salah jalan ketika sudah merasakan hampa hatinya, dan gersang jiwanya, segeralah menginggat dirinya ! Bertaubatlah !
Berusahalah sekuat tenaga, seperti halnya Adam, kembali menata dirinya, untuk bersungguh-sungguh mencariNya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!