REFLEKSI | Nusantara Negeri Unggul

ED
Sabtu, 14 Mei 2022 | 07:30 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Nusantara Negeri Unggul

6. Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah sekitar tahun 623 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929; T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968).

Kemudian pada tahun 718 M, Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan anaknya Abdul Malik telah menginjakan kaki di Palembang - Sumatra Selatan. Pada waktu itu Palembang dipimpin oleh seorang Raja Sriwijaya yang bernama Raja Srindra Varma. Dakwah Umar bin Abdul Aziz membuat Raja tertarik lalu masuk Islam. Terbukti di makamnya tertuliskan kalimat Lailla hailallah Muhammad Rasulullah. Lalu di tandai juga ada surat-menyurat (korespondensi) antara Raja Srindra Varma dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz yang juga untuk meminta didatangkannya para guru untuk berdakwah. Yang kini surat-suratnya di simpan di Museum Oxford, inggris.

7. Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah sekitar tahun 626 M. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39).

Begitu menariknya negeri kita Indonesia, sehingga telah menjadi tujuan berbagai macam bangsa dengan tujuannya masing-masing, sumberdaya manusianya sangat dikenal piawai, oleh berbagai bangsa, khususnya dalam pembuatan kapal-kapal besar yang mampu mengarungi samudera, sehingga ketika jaman Nabi Nuh pun, inspirasi dalam pembuatan bahteranya, tak terlepas dari campur tangan manusia Nusantara, yang dibuktikan dari bahan baku Bahtera Nuh tersebut, ketika di teliti artefaknya oleh para peneliti, bahtera yang ditemukan di pegunungan Ararat, Turki, menunjukan bahan baku pembuatan bahtera Nuh tersebut, menggunakan kayu jati, kayu yang secara endemik, khusus hanya ada tumbuhnya di kepulauan Jawa, sehingga pantas, nenek moyang kita dari dahulu telah disebut sebagai pelaut unggul yang ulung, dan pernyataan ini, di nukilkan juga dalam relief di candi Borobudur, yang sangat ekspresif, menggambarkan kapal layar, Djukung perahu kecil, dan kapal bercadik kapal berbadan besar yang divisualkan disana.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.