REFLEKSI | Menjaga Lisan
Berbahasa yang baik itu menunjukan karakter kita. Berbudi bahasa yang menarik, memikat, lemah lembut, sopan santun, merupakan adab dalam membangun kepercayaan, penghormatan, dan kesalehan sosial yang harus kita tunjukan.
Lalu bisakah kita menjaga mulut kita agar terjauh dari bahayanya lisan ?
Jika kita manusia yang menyadari kelemahan diri, bahwa kita kurang bisa mengkontrol lisan, maka diamnya kita akan lebih baik, dan bermanfaat dari pada kita banyak berkata-kata, yang tampa disadari, ketika kita bablas bicara, yang keluar dari lisan kita, adalah bahasa yang dapat menyinggung perasaan orang lain...Maka seketika itu juga, orang dapat meraba bagaimana karakter sesungguhnya dari diri kita ini.
Seandainya sudah seperti itu orang lain mampu meraba karakter kita yang buruk, otomatis akan ada dampak pada diri kita, sebagai respon orang lain menyikapi keberadaan kita.
Seperti apa responnya ?
Individu yang tersakiti dengan kata-kata kita, ia akan menjauh dari hubungan yang sudah dibangun baik oleh kita. Ia akan antipati, dan menunjukan rasa risih, tidak nyaman, dan itu terbaca dari bahasa tubuh yang bisa kita tangkap saat ia berada dengan kita. Hilang rasa respek, tak mau tahu, dan mengacuhkan kita.
Jika sudah seperti ini, siapa yang rugi ? Kita sendiri yang merugi, karena sudah membuat lubang galian untuk mengubur dalam-dalam kepribadian kita yang seharusnya baik dimata orang.
Yang rugi adalah kita ! Yang akan menjauh dan pergi dari kita, adalah orang-orang yang kita kenali. Dan dampak lainnya, dari mulut-ke mulut kepribadian kita akan dibicarakan banyak orang, sehingga akhirnya, hanya karena kita tidak bisa menahan dan menjaga lisan, maka kita akan dikenal sebagai manusia tak berakhlak, manusia hina, dan layaknya iblis dan setan tan. Sehingga akhirnya kita pun terusir dari pergaulan yang sebetulnya kita telah nyaman disituasi pergaulan tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!