REFLEKSI | Kecil
Tapi mengapa ada saja manusia yang berpikiran picik, ingin menyeragamkan pola pikirnya, pandangan-pandangannya dalam menghukumi manusia lainnya.
Belajarlah dari menghargai sesuatu yang kecil, tapi membuka pintu kebaikan, keberkahan, dan keselamatan.
Hingga dari hal yang kecil, Nabi pun mencoba mengajak umat realistis untuk mampu melakukan kebaikan-kebaikan remeh, yang berdampak besar dimata Allah.
Pandangan Allah berbeda dengan pandangan manusia ! Allah tidak kaku, dan sangat fleksible menilai sesuatu. Ia tahu maksud tersembunyi dari apa yang tergambar manis hanya dipermukaan. Ia paham bahwa sesungguhnya dalam diri insan jika belum mengenal cinta, maka akan banyak dusta dalam topeng roman yang manis dan mempesona.
Anggapan manusia, ia sudah mengenali cara kerja Allah dalam memperhitungkan apa yang ia fahami sebagai nilai kebaikan yang baku, dan kaku.
Maka ia berani tampil sebagai penyeru melebihi style Nabinya yang santun, toleran, bicara penuh hikmah, menebar kasih sayang, dan lemah lembut.
Ketika ada manusia melebihi gaya Nabinya, dalam menyeru, dan tidak menunjukan kasih sayang, hikmah, serta kesantunan dalam bersyiar Islam, maka sangat disayangkanlah itu, dan jangan diharapkan, ia akan menyeru hal-hal kecil sebagai penyemangat umat untuk memperoleh keberkahan yang harus umat lakukan.
Hal kecil dalam khasanah pribahasa menunjukan sesuatu yang utama, seperti ungkapan pribahasa, " sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!