IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

REFLEKSI | Karakter Kita

ED
Rabu, 12 Oktober 2022 | 06:23 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Karakter Kita

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Si.

HIDUP pada hakekatnya adalah sebuah perjalanan, sepanjang usia, dimana kita sebagai pelakonnya, dipersilahkan untuk mengambil peran, karakter, dan paham apa yang melandasi pemikiran-pemikiran kita, untuk menjadi penguat prinsip kita, dalam kiprah kita sendiri mewarnai kehidupan yang kita jalani.

Maka hadirlah beragam peran, yang kesemuanya hadir berdasarkan pijakan-pijakan yang kita pilih sendiri skenario diri ini, tampa tersadar, kita masuk dalam perangkap-perangkap yang membuat kita berkubang pada jebakan-jebakan semu, yang dianggap sebagai suatu kebenaran.

Maka hadirlah karakter, "antagonis," yang merasa ia sudah benar memerankannya.

Malah semakin membatu tak mau mendengar si tokoh antagonis ini, sebab ia merasa, ialah kebenaran itu sendiri.

Sehingga perwatakannya, jauh dari mau mendengar, jauh dari kebenaran. Di tambah ia selalu ingin menang, ingin populer, apapun caranya, semua orang ia rasa, ada di bawah level dirinya, dan mereka buatnya, tak berarti apa-apa, dan dialah yang terkuat yang tak bisa dikalahkan.

Manusia seperti ini, jika ia menjadi pemimpin, ia akan memperlihatkan egosentrisnya, berani mengorbankan orang lain, berani menunjukan kekakuannya, dan sikap dinginnya, padahal sebelumnya ia adalah bukan siapa-siapa, hanya karena Allah ingin mengujinya lah, akhirnya Allah beri ia nasib baik, yang sebetulnya itu ujian yang tiada ia sangka.

Lalu muncul karakter yang mampu berpijak pada prinsip-prinsip kebaikan, yang condong memihak jalan kebenaran, dengan spiritnya yang utama menyuarakan kata hati, sama dengan apa yang diperbuatnya, dilandasi kejujuran, moralitas, rasa hormat, dan prinsip-prinsip kesetaraan saling menghargai sebagai mahluk Tuhan yang sama dalam pandanganNya, peran protagonis merupakan tipikal penguat hidup, ia tak merasa sebagai sesuatu yang hebat, tapi, keberadaannya mampu memberi sentuhan dan warna tersendiri pada kehidupan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.