REFLEKSI | Ibadah Manusia Ranahnya Tuhan
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
IBADAH itu bagian terprivat, antara diri kita dan Allah. Perantara kita dalam menuju Allah adalah kekhusuan, dan fokusnya hati untuk bisa panteng memekakan radar jiwa.
Nilai ibadah yang kita kedepankan adalah keikhlasan. Adapun Allah menerima penghambaan kita melalui ibadah yang kita lakukan, merupakan bagian rahasia yang kita pun tak tahu, apa Ia menerimanya, ataukah tidak !
Untuk urusan itu, ini bukanlah ranah kita merecoki ketentuan yang Allah punya, dan tak ada urusannya manusia mempermasalahkan ini.
Namun berbeda pada manusia yang sudah kadung merasa ia paling faham, paling berilmu, paling suci, dan buta mata hati, perasaan, kepekaan, dan nuraninya.
Dengan kesadarannya, ia merasa berhak membuat fatwa, untuk mendikte urusan ibadah orang lain, menyalahkannya, membuat opini yang membenturkan khilafiyah, atau perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang fikih, ikhtilaf, yang memiliki makna yang sama, yakni perbedaan pendapat di kalangan ulama, disebabkan karena perbedaan cara pandang (istimbath) di dalam memahami dalil-dalil agama, yang sepatutnya menjadi pegangan masing-masing yang meyakininya, karena sesungguhnya... perbedaan dalam Islam dalam masalah khilafiyah itu, adalah rahmat, bagi yang mengambil kebaikannya.
Manusia yang sangat sombong dalam masalah urusan khilafiyah yang sudah disepakati, dan berani mengambil peran lebih, sampai berwenang memasuki area ranahnya Allah, dalam memutuskan hal yang seharusnya hanya Dia, yang berhak memberi hukumnya, adalah manusia yang sudah Allah butakan !
Dan sengaja ia di jadikan ujian bagi manusia lainnya, sehingga untuk manusia yang peka hatinya, cerdas akalnya, kuat imannya, hal ini akan semakin membuat bertambah ketaqwaannya.
"Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." Qur'an surat Al-Baqarah ayat 12.
Saat ini, manusia dengan pemahaman yang intoleran, yang berani memberi fatwa, salah dan benar dalam urusan ibadah, bermunculan di media sosial, bak jamur tumbuh subur di musim penghujan.
Peran Allah sudah berani di ambil alih kewenangannya oleh manusia!
Di tambah sosial media sudah jadi corong kuat dan efektif bagi mereka dalam menyebarkan ismenya.
Yaa...kita setiap saat bisa melihat, manusia dengan pongah mengambil peran Tuhan, menghukumi sesamanya...enteng ia berucap, mudah tampa berpikir panjang ia menjudge manusia lainnya. Oleh manusia buta seperti ini, segala bisa ia hukumi, bisa di haramkan, dikafirkan, dan sangat mudah hanya untuk membid'ahkan manusia lainnya.
Ia yang mendikte, seakan ia paling faham kebenaran. Ranah Tuhan di sini telah ia kangkangi, ia sendiripun sudah bagai penguasa kebenaran, yang orang lain harus ikuti apa katanya.
Manusia yang tak sadar akan batas perilaku, ia seperti kendaraan yang remnya blong, jalannya membahayakan, tidak hanya dirinya, tapi juga orang lain disekitarnya.
Bagaimana orang semacam ini ada di tengah kita ?
Pemahaman, wawasan, keilmuan, dalam memahami banyak hal, patokannya adalah hati, dan kepatutan.
Kejernihan berpikir, dan kehati-hatian merupakan rem dari manusia yang memiliki kesempurnaan pikir!
Manusia yang sempurna dalam berpikir, memiliki kepekaan, dan perasaan yang halus. Dan kehalusan rasa, adalah anugrah yang tidak semua manusia, dan semua ulama memiliki itu.
Ibadah manusia ranahnya Tuhan dalam menilainya ! Manusia hanya sebatas melakukan ketaatan, tak lebih dari itu ! Dan manusia pongah yang merasa sudah paling benar, adalah ujian bagi kita. Biarkan saja ia seperti itu. Jangan pernah dihiraukan.
Berbuat yang terbaik saja dalam ketaatan ibadah kita pada Tuhan. Seperti halnya iblis, ia selalu berusaha mengalihkan ketaatan ibadah kita, sama halnya Iblis dalam wujud manusia, ia sangat nyata mempengaruhi pikiran, emosi, dan kejiwaan kita.
Lantas jika kita terpengaruh, apa efeknya ?
Kita bagai iblis dalam wujud manusia itu kembali ! Virus iblisnya telah menulari kita ! Merasuki kita. Lalu bagaimana iblis beribadah ? Ia seperti apa kata janjinya, akan mengiring manusia untuk tidak mantaati Allah, mencari temannya dari kalangan manusia, yang siap menemaninya di Neraka (Naar) tempat terkelam bagi akhir kehidupannya, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. Nauzubillah min dzalik.
Semoga kita menjadi manusia tahan banting, yang memiliki prinsip kuat dalam ketaatan kita beribadah kepada Allah. Apapun kebaikan dalam wujud ibadah kita yang bisa kita perbuat, sekalipun ia disalahkan dan dicaci, bahkan ada yang sampai membid'ahkan, senyumi saja oleh kita. Kita yang merasakan manisnya ibadah kita. Kita yang merasakan nikmatnya ibadah kita. Untuk itu semua, patut kita bersyukur ! Ternyata kenikmatan kita berbuat taat dalam beribadah dengan beragam cara, banyak orang yang belum menikmatinya. Sehingga ia sibuk mengoreksi ibadahnya orang lain.
Dan titik tolak dari ibadah ketaatan kita sudah benar, manakala hati kita tentram dalam melaksanakannya, dan berbunga hati kita, penuh suka cita, yang rasa riangnya memenuhi segenap rongga dada kita.
Alhamdulillah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!