REFLEKSI | Hati dan Kebahagiaan
Kebahagiaan itu pada hakikatnya sederhana. Ia tak memerlukan kondisi yang terlalu dipaksakan.
Kesadaran menjalani atau melakoninya pun tak menuntut pengorbanan berlebihan, hingga kita memaksakan diri meraih apa yang kita cari.
Kebahagiaan itu bersembunyi di niat tulus dan ikhlas. Saat ketulusan dan keikhlasan kita bisa diperbuat, maka kita bahagia....dan kebahagiaan kita dimulai dari terbukanya hati kita.
Harta bukan tujuan kita mendapat bahagia. Pun akhirat, bukan tujuan akhir kita bisa berharap bahagia di sana. Sebab urusan akhirat kita nanti ditempatkan dimana, urusan tersebut, hanyalah kuasanya Allah yang maha pemurah dan penyayang, dengan rahmat kemaharahmanan dan rahimnya.
Mendapatkan bahagia itu saat kita hidup. Meraih bahagia itu ketika secara fisik raga dan ruhani kita masih utuh menyatu, seperti sekarang saat hidup di dunia.
Bahagia itu ada dalam kehidupan kita, di setiap tarikan nafas kita. Di keindahan yang mata bisa tatap, yang hidung bisa cium, yang telinga bisa dengar, dan yang rasa takala lidah bisa mengecap. Itulah kebahagiaan yang Allah sudah beri perangkatnya.
Bahagia itu tidak macam-macam, dan tak mesti susah dan sulit. Bahagia itu urusannya hati, maka pelihara hati kita terlebih dahulu agar murni bahagia yang kita dapat.
Hati kita kental bisa memfrekwensikan kebahagiaan. Sehingga kebahagiaan kita akan sesuai dengan kadar kebesaran hatinya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!