REFLEKSI | Fase Kesadaran Diri

ED
Senin, 27 Juni 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Fase Kesadaran Diri

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

KESADARAN diri merupakan bagian dari puncak pencapaian kebeningan hati, kembalinya kesadaran nurani, kesadaran pikir, yang menjadi pendorong kuat bagi jiwa untuk bertekad memperbaiki, apa yang menjadi kekurangan pada dirinya.

Kesadaran diri terjadi karena manusia sudah merasa lelah, dengan pengembaraan lahiriahnya yang diombang ambing nafsu, yang jika semakin dituruti hawa nafsu itu, ia selalu saja akan merasa kehausan, kekurangan, tidak pernah puas, dan membawa si manusia itu sendiri malah semakin liar, hingga berani melanggar batas-batas, yang akhirnya jika tak segera menyadarinya, ia akan terjerumus dalam kegersangan jiwa yang menghancurkan.

Allah memperjalankan setiap mahluk, khususnya manusia, untuk masuk kedalam proses kehidupannya yang berwarna, hal ini dimaknai sebagai sebuah pengenalanNya atas semua kemahakuasaannya, yang meliputi sesuatu baik itu kebaikan maupun yang sebaliknya. Dan Allah memberi kebebasan, pilihannya ada pada manusianya itu sendiri, dan bagi mereka yang terahmati, ia diselamatkan oleh petunjuk kitab sucinya, yang menunjukan jalan kebenaran, pedoman untuk mereka yang beriman, sedang bagi mereka yang liar, tidak didik dalam pemahaman keagamaannya, prosesnya akan sangat panjang untuk sampai menemukan cahaya kepada mengenal yang haqnya, dan itu kembali pada bagaimana kita dikenalkan oleh orang tua kita, pada kemuliaan keberadaan agama sebagai petunjuk cahaya kehidupan dari semenjak kecil.

Dalam bahasa Arab, kesadaran diri disebut dengan ma’rifatun nafs. Dalam al-Qur’an dapat ditemukan ayat yang menjelaskan pentingnya kesadaran diri ini. Salah satu ayat yang menyebutkan hal tersebut terdapat pada firman Allah surah Al-Hasyr ayat 19:

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang- orang yang fasik. (QS. Al-Hasyr: 19)

Fase kesadaran diri merupakan fase dimana puncak kesadaran sudah bersinggungan dengan hidayah Allah, sehingga sentuhan Allah mampu menekan nafsu egoisnya, dan nurani tergerak lebih dominan menguasai pikiran, sehingga langkah fisik banyak mempertimbangkan sisi moral kepatutan, yang sebelumnya hal ini didominasi nafsu, dan kurangnya pertimbangan diri.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.