REFLEKSI | Dekat dengan Ulama Akhirat
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
KONSEP ulama menurut Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Tafsir Al-Misbah, adalah sosok seseorang yang memiliki pengetahuan yang kuat dan jelas terhadap agama, kitab sucinya, Al-Qur’an, dan faham pada ilmu fenomena alam. Pengetahuan yang di milikinya tersebut, tentunya akan mengantarkan seseorang untuk memiliki rasa khasyyah (takut) kepada Allah.
Seorang ulama mempunyai kedudukan terhormat, sebagai pewaris Nabi SAW, yang mampu mengemban tugas-tugasnya, sebagai penyampai risalah, dimana seorang ulama tentunya memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah.
Istilah ulama sendiri merujuk kepada seseorang yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, berakhlak mulia, dikenal berkepribadian baik, dan menjadi teladan hidup bagi masyarakat sekelilingnya, dan memiliki sifat-sifat mulia lainnya.
Seorang ulama selalu akan memberi keteladanan pada masyarakat disekelilingnya, hal ini untuk memperkuat dan memberi contoh positif dalam kehidupan bermasyarakat, yang memerlukan contoh panutan untuk diikuti.
Seorang ulama yang baik, selalu akan bisa mewarnai kehidupan masyarakatnya dengan energi positif yang berdampak kebaikan secara luas. Keberadaan ulama dalam masyarakat, akan mendatangkan kebarokahan, rahmat, bukan laknat. Dakwahnya juga mampu merangkul, tidak menjadi kesempatan untuknya memukul, atau membangun kebencian, karena ia akan mengajak bukan mengejek.
Dalam hadits Riwayat Ad-Dailami dari Anas r.a, Rasulullah SAW bersabda; " ittabi’ul ulama’a fainnahum suruuhud dunyaa wamashaa biihul akhirah. “ yang artinya ; Ikutilah para ulama karena sesungguhnya mereka adalah pelita-pelita dunia dan lampu-lampu akhirat.” (HR Ad-Dailami)
Abu Hamid Al-Ghazali menulis dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (I/77). Di dalamnya, beliau mengutip lima akhlak yang menjadi ciri-ciri dari seseorang itu ulama’ akhirat.
Imam Al-Ghazali menyimpulkan dari lima ayat Kitabullah, yaitu khasyyah, khusyu’, tawadhu’, husnul khuluq, dan lebih mengutamakan akhirat di banding dunia (zuhud).
Ciri pertama, dari ulama akhirat itu khasyyah, yakni takut kepada Allah. Akhlak ini di simpulkan dari firman Allah:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ‘ulama’.” (QS: Fathir: 28).
Ar-Rabi’ bin Anas pernah berkata, “Siapa pun yang tidak takut kepada Allah, maka dia tidak layak disebut sebagai ‘alim.” Khalifah ‘Umar juga pernah menulis surat kepada Abu Musa al-‘Asy’ari, walinya di Kufah.
Didalamnya beliau menyatakan, “Sesungguhnya fiqh (yakni: kedalaman ilmu) itu bukan dinilai karena banyaknya paparan keterangan, luasnya pembicaraan, atau banyaknya riwayat yang disampaikan. Akan tetapi, yang disebut fiqh itu adalah rasa takut kepada Allah ‘azza wajalla.”
Ciri kedua, khusyu. Khusyu’ adalah terpancarnya cahaya ketenangan dan ketundukan kepada Allah dari dirinya. Sifat ini disarikan dari firman Allah:
وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
“Sedang mereka khusyu’ kepada Allah dan tidak menukarkan ayat-ayat-Nya dengan harga yang sedikit.” (QS: Ali ‘Imran: 199)
Dengan kata lain, jika seseorang yang memiliki banyak ilmu, namun tidak terlihat tanda-tanda kekhusyu’an padanya, maka ilmunya pasti tidak bermanfaat.
Ciri ketiga, tawadhu. Yaitu ulama rendah hati dan tidak sombong Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ
“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS: al-Hijr: 88, senada juga QS: asy-Syu’ara’: 215)
Kerendahhatian adalah teladan para Nabi, sedangkan kebalikannya merupakan ajaran Iblis. Bukankah Allah melaknat Iblis karena ia menyombongkan diri?
Ciri keempat, khusnul khuluq. yaitu berakhlak baik Inilah akhlak Rosululloh, sebagaimana di nyatakan Al-Qur’an:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka di sebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS: Ali ‘Imran: 159).
Jika Rasulullah saja mencontohkan ahlaq terpuji, ia lemah lembut dan santun kepada umatnya, lalu akan sangat bertolak belakang, jika “sebagian orang” dari umat ini lantas bersikap sangat keras, intoleran, dan kasar kepada sesama saudaranya yang muslim !
Sungguh, kekasaran dan kerasnya sikap orang berilmu akan menjauhkan orang bodoh dari ilmu. Akibatnya, mereka lantas akan menjauh, takut mendekati, dan ia akan terus dalam kegelapannya dan kejahiliyahan, sehingga karena itu, ia jauh pun dari cahaya hidayah.
Ciri kelima, zuhud. Yaitu ulama sangat faham tujuan akhir dari kehidupan, dan lebih mengutamakan akhirat di banding dunia Allah berfirman:
فَٱلْتَقَطَهُۥٓ ءَالُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَٰمَٰنَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا۟ خَٰطِـِٔينَ
“Berkatalah orang-orang yang di anugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu! Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih.” (QS: al-Qashash: 80).
Dari kelima ciri ulama akhirat itu, landasan yang menjadi sikap para orang-orang yang menjadi pewaris Nabi ini, adalah kepemilikan ilmu, yang dengan ilmu yang mereka miliki, dan mereka fahami, ilmunya menjadi menuntun mereka lebih awas, dan waspada, pada jebakan-jebakan Iblis yang mampu membuat tipu dan merusak keimanan.
Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Orang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi sampai ikan di air.
Maka, pantaslah bahwa keutamaan orang alim (orang berilmu) atas ahli ibadah itu seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.
Para ulama itu pewaris ilmunya para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu yang bermanfaat.
Siapa saja manusia yang mengambil bagiannya adalah ilmu, maka ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.
Mu’adz bin Jabal ra. Berkata:
تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ حَسَنَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيْحٌ وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ وَبَذْلُهُ قُرْبَةٌ وَتَعْلِيْمَهُ لِمَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ
“Belajarlah ilmu, sesungguhnya mempelajari ilmu adalah suatu kebaikan, mencari ilmu adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, membahas suatu ilmu adalah jihad, bersungguh-sungguh terhadap ilmu adalah pengorbanan, mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak memiliki pengatahuan adalah sedekah”
Sufyan bin ‘Uyainah ra. Berkata:
أَرْفَعُ النَّاسِ عِنْدَ اللّه مَنْزِلَةً مَنْ كَانَ بَيْنَ اللّهِ وَبَيْنَ عِبَادِهِ وَهُمْ الأَنْبِيِاءُ والْعُلَمَاءُ
“Kedudukan tertinggi manusia di sisi Allah adalah para Nabi dan ‘Ulama (orang yang berilmu)”
Semoga kita didekatkan dengan para ulama akhirat, yang andai kita dekat dalam bergaul dengan mereka, keberkahan hidup, kebaikan ahlaq, dan bertambahnya ilmu, bisa kita dapatkan, aamiin.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!