REFLEKSI | Dakwah Wali
1. Ditilik dari faktor kemapanan ilmu dan kedewasaan pikiran, ulama dahulu mengedepankan contoh uswatun hasanah, dan mempraktekkan hidup sederhana, membangun kekayaan hati tidak materi, beda dengan yang sekarang banyak dilihat, dari fenomena para generasi selanjutnya.
2. Generasi awal para pensyiar Islam, mereka membesarkan wilayah atau daerah dimana ia tinggal, sehingga nama kampung / wilayahnya, selalu melekat di belakang namanya. 3. Nilai dakwahnya selalu memberikan keteduhan, petuah bijak yang selaras dengan apa yang dijalankannya, tidak membangun narasi kebencian. 4. Memegang komitmen, memberi contoh menjalankan praktek kehidupan, sesuai apa yang dijalankan dengan apa yang ia dikatakan (tidak munafik). 5. Banyak memberi, bersedekah, bukan penikmat pemberian, dan pengumpul sedekah, malah banyak juga yang terang-terangan sekarang ini, mencari cara dengan membuka, menerima pemberian umat secara masif untuk kepentingannya. 6. Beberapa oknum mencari cara memperkaya diri dengan gelar keulamaannya, ketinggian ilmunya, sehingga jauh dari cara ulama terdahulu yang bahkan ia sembunyi di tempat yang terang, untuk tidak dikenali. 7. Ulama terdahulu selalu mengedepan ketawadhuan, keikhlasan, ketaqarruban, sehingga tercermin dari setiap ucapannya yang jauh dari kata kotor, yang tidak di contohkan sedikitpun oleh Nabi SAW, namun hal sebaliknya sekarang ini, banyak dilakukan oleh para oknum ulama, bahkan berani sampai mengaku memiliki nasab sampai pada Nabi. 8. Ulama terdahulu menghindari popularitas, ia malah tak dikenali di saat hidup, namun menjadi terkenal setelah kematiannya. Ulama saat ini, ia mencari popularitas, malah berani menjalankan cara melawan arus untuk bisa dikenali, menjadi anomali, sehingga setelah sepeninggalnya, banyak hal buruk mulai terkuak. 9. Ulama dahulu menjalankan hidup merih, menempa keras dirinya, dipaksakan menutup matanya padahal duniawi, berbeda dengan oknum ulama sekarang, mengajak hidup sederhana pada umat, sedangkan ia sendiri hidup bermewah-mewah tak mengenal perih. 10. Ulama terdahulu banyak benarnya, sehingga ucapannya seucap nyata, atau 'seciduh metu '( bisa terbukti karomahnya)...sedang para oknum ulama sekarang, lebih banyak menceritakan karomah kelebihan ulama dahulu, padahal ia sendiri tak memiliki keistimewaan apapun, cerita luar biasa itu hanya untuk menarik hati umatnya saja, agar bisa terhipnotis, sehingga mereka bisa dimanfaatkan dirinya, sambil terus dieksploitasi, umat terus dibohongi bagi kepentingan dirinya, hingga si jamaah akan sadar, setelah sekian tahun ia di manfaatkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!