REFLEKSI | Cermin Utuh, Cermin Kusam, Retak dan Hancur
Sehingga kita dengan sendirinya, diabaikan oleh orang lain, karena tidak ada lagi kebermanfaat yang patut diambil, diteladani, dan jadi contoh.
Manusia dengan hati yang bagai cermin retak seperti ini, sangat perlu mencari ahli reparasi, cerminnya harus diperbaiki, hatinya harus di rekonstruksi ulang, sehingga ahli reparasi ini mampu membuat diri kita kembali baik, normal, bersih dan indah kembali cerminnya, seperti keadaan semula.
Cermin hancur, merupakan gambaran hati yang sudah sangat kronis, keburamannya, keretakannya, tingkat kehancurannya.
Sehingga ahli reparasi pun kesulitan dalam memperbaikinya, sebab si cermin sudah sangat begitu berat tingkat kerusakannya.
Untuk cermin hancur seperti ini, itu adalah gambaran keadaan hati, yang tak bisa tertolong lagi oleh hidayah Allah. Manusia seperti ini sudah sangat gelap dari keberadaan nurani, ia buta, tapi tak merasa buta, ia rusak tapi merasa paling sempurna.
Seperti halnya Fir'aun, akhirnya ia jadi pengingat untuk manusia lainnya, dan manusia dengan pengibaratan hatinya, seperti halnya cermin hancur, ia akan jadi contoh yang ibrahnya diambil oleh segenap manusia, sehingga manusia lainnya tak menjadi manusia seperti itu.
Keburukan dari manusia yang cermin hatinya hancur, ia malah membawa manfaat bagi manusia lainnya, untuk menjadi contoh, menjadi pengingat kesadaran pada manusia lainnya, agar selalu menjaga hati, menjaga cermin diri, sehingga hati yang ada pada setiap manusia, harus selalu indah, agar enak untuk bisa mematutkan diri setiap hari, untuk menjaga hatinya, agar selalu baik dan terpelihara.
Alhamdulillah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!