REFLEKSI | Cara Kita Hidup
Oleh Idat Mustari
Self Reminder
- Kunasehati diriku dan juga mungkin dirimu, bahwa tak perlu khawatir kalau pas meninggal tidak ada yang mengurus jenazah kita.
SEBAB dalam pelaksanaannya hukumnya adalah fardhu kifayah, meskipun ilmu mempelajarinya hukumnya fardhu ain. Karena fardhu kifayah maka pasti akan ada yang mengurus jenazah kita.
Tak perlu risau pula cara kita mati, sebab kematian yang baik bukan harus diatas kasur empuk, bukan pula karena banyaknya iring-iringan pengantar hingga ke kuburan. Umar bin Khattab mati karena ditusuk oleh Abu Lukluk menggunakan belati beracun. Usman Bin Affan dan Ali bin Abi thalibb mati karena dibunuh. Namun mereka dijamin masuk surga.
Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat setia Rasulullah saw,disaat wafatnya tidak ada satu kain kafan pun yang bisa menyelimuti tubuhnya, dan yang mengurus jenasahnya adalah rombongan musafir yang soleh. Abu Dzar Al-Ghifari mati tanpa iring-iringan pengantar, sedikit yang menangisinya tapi pintu-pintu surga terbuka untuknya.
Tak perlu risau bagaimana cara kita mati, namun yang harus dirisaukan adalah bagaimana cara kita hidup. Cara kita hiduplah yang akan jadi bahan cerita orang setelah kita meninggalkan dunia ini.
Itulah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim as yang diabadikan dalam Al Quran, “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan." (QS Asy Syuara ayat 84-85).
Quote ku di pagi ini "Jangan ceritakan bagaimana aku mati, tapi ceritakanlah bagaimana aku hidup". Wallahu'alam. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!