RAMADANAN | Dimakamkan di Kawasan Candi Cangkuang, Siapakah Syekh Arief Muhammad?
Oleh Ustad Akbar Wijaya Kusumah
SYEKH ARIEF MUHAMMAD, yang makamnya terletak di Kampung Pulo, kawasan Candi Cangkuang Garut, menurut warga setempat, merupakan figur penting bagi mereka. Dikenal sebagai Mbah Dalem Arief Muhammad, beliau adalah leluhur mayoritas penduduk di Kampung Pulo, dan dihormati dengan sebutan "Eyang Mbah Dalem Arief Muhammad".
Menurut silsilah yang terdokumentasi di museum Cangkuang, Syekh Arief Muhammad adalah keturunan langsung dari Nabi Muhammad saw melalui putri beliau, Sayyidah Fatimah Zahra, atau yang dikenal sebagai Ratu Fatimah. Periode kehidupannya diperkirakan sekitar abad ke-9 Masehi, sekitar 200 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw.
Posisi makam Syekh Arief Muhammad yang terletak di dataran paling tinggi di Kampung Pulo menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang disegani semasa hidupnya. Berdasarkan silsilah di museum Candi Cangkuang, beliau merupakan keturunan ke-8 dari Rasulullah saw, menandakan kedekatannya dengan garis keturunan nabi.

Syekh Arief Muhammad diperkirakan hidup sekitar tahun 800-an Masehi, memimpin wilayah Cangkuang dan sekitarnya sekitar 1200 tahun yang lalu. Dengan penelusuran tokohnya melalui silsilah, dapat diketahui bahwa Islam telah menjadi agama resmi di wilayah tersebut pada masa itu, dengan para wali muslim sebagai pemimpinnya.
Di samping makam Arief Muhammad, Kampung Pulo juga memiliki ratusan makam kuno lainnya yang tersebar di wilayah tersebut. Setiap makam memiliki bangunan yang mirip dengan candi, terbuat dari bata atau batu andesit, menunjukkan pentingnya penghormatan terhadap leluhur bagi penduduk setempat.
Tradisi ziarah ke makam leluhur merupakan ritual istimewa yang dijalankan oleh berbagai golongan masyarakat, dari para pemimpin hingga rakyat biasa. Meskipun mayoritas penduduk telah memeluk Islam, tradisi ini tetap berlanjut karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Untuk mengetahui masa hidup beliau, karena Mbah Dalem Arief Muhammad masih keturunan Rasulullah saw, melalui silsilahnya kami membandingkannya dengan keturunan Rasulullah yang lain juga menjadi Imam besar bagi para pengikut ajaran keluarga nabi pada masanya, yaitu Imam Muhammad al Jawad yang hidup tahun 817 M-842 M.
Berikut adalah urutan perkiraan tahun dari nama yang kami peroleh dari silsilah Dalem Arif Muhammad di atas : 1. Muhammad Rasulullah SAW (570 - 632 M) 2. Fatimah (605 - 632 M) + Sayidina Ali Kw (600 - 661M) 3. Imam Husen (625 M - 681 M) 4. Syekh Jenal Abidin atau Imam Ali Zaenal Abidin (658 - 713 M) 6. Syekh Mashur (salah seorang putra dari Imam Ali Zaenal Abidin, hidup satu masa dengan Imam Muhammad al Bagir-juga salah seorang putra Imam Ali Zaenal Abidin yang hidup pada tahun 676 - 732 M) 7. Syekh Masajid (satu masa dengan putra Imam Muhammad al Bagir ; Imam Ja’far as Shadiq yang hidup pada tahun 702 - 765 M) 8. Sulthan Arif (satu masa dengan putra Imam Ja’far as Shadiq ; Imam Musa al Kadhim yang hidup pada tahun 750 - 805 M) 9. Sulthan Syekh Maulana Maghribi (satu masa dengan putra Imam Musa al Kadhim ; Imam Ali ar Ridho yang hidup pada tahun 770 M-825 M) 10. Sultan Arif Muhammad (satu masa dengan putra Imam Ali ar Ridho; Imam Muhammad al Jawad yang hidup pada tahun 817 - 842 M.
Selain makam Arif Muhammad, di Kampung Pulo ini juga terdapat ratusan makam kuno lain yang tersebar di berbagai wilayah di Kampung Pulo ini. Dan seperti pada umumnya pemakaman pada masa itu, setiap makam memiliki bangunan makam atau cungkup makam yang berbentuk persis sama dengan yang kita kenal sebagai Candi sekarang.
Bangunan makam atau cungkup makam ini pada umumnya terbuat dari bata atau batu andesit atau yang lebih dikenal dengan batu candi atau batu alam yang terdapat di sekitar lokasi makam.
Penduduk nusantara pada masa lalu adalah bangsa yang sangat menghargai leluhurnya. Meskipun nenek moyang mereka telah berpulang, mengunjungi makam atau berziarah ke makam leluhur adalah suatu ritual istimewa yang diselenggarakan dari mulai golongan para pemimpin hingga rakyat biasa, tradisi ini melambangkan tradisi ajaran Millah Ibrahim atau agama Brahmanik.
Ketika mayoritas penduduk negeri ini telah memeluk Islam tradisi ini tetap berjalan karena tradisi ziarah tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Pentingnya tradisi ziarah bagi bangsa Indonesia telah menjadikan pemakaman sebagai tempat ibadah untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dan dengan tradisi ziarah mengingatkan manusia akan kefanaan dirinya.
Pemakaman di nusantara memiliki lokasi dan bangunan khusus yang mendukung ritual ziarah. Seiring dengan penyebaran Islam, bangunan makam sering kali terintegrasi dengan bangunan masjid, menunjukkan kesatuan antara agama dan tradisi lokal.
Dengan demikian, makam Syekh Arief Muhammad di Kampung Pulo tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian penting dari warisan budaya dan spiritual masyarakat setempat. Tradisi ziarah ini juga menjadi pengingat akan kefanaan diri dan penghormatan terhadap leluhur, yang tetap dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.
- Penulis, Motivator dan Pimpinan Yayasan Pendidikan Islam
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!