Qatar Mundur dari Peran Mediator Utama dalam Perundingan Gencatan Senjata Gaza
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 11 November 2024 | 20:40 WIB
VISI.NEWS | DOHA - Qatar memutuskan untuk menarik diri sebagai mediator utama dalam perundingan gencatan senjata di Gaza, kecuali Israel dan Hamas bersedia untuk berkomitmen penuh dalam negosiasi dengan itikad baik. Keputusan ini merupakan kemunduran besar dalam upaya mencapai gencatan senjata, yang telah berlangsung selama lebih dari setahun. Sumber diplomatik yang dilansir AFP mengungkapkan bahwa Qatar memberi tahu kedua belah pihak—Israel dan Hamas—bahwa mereka tidak bisa terus berperan sebagai penengah jika kedua pihak terus menolak untuk bernegosiasi secara serius.
"Qatar memberi tahu Israel dan Hamas bahwa selama ada penolakan menegosiasikan kesepakatan dengan itikad baik, mereka tidak dapat terus menjadi penengah," ujar sumber itu tanpa menyebut nama.
Qatar, bersama Amerika Serikat (AS) dan Mesir, telah terlibat dalam mediasi untuk mengakhiri perang ini, namun upaya tersebut menemui jalan buntu karena penolakan PM Israel Benjamin Netanyahu terhadap usulan gencatan senjata, meskipun Hamas telah menyetujuinya. Netanyahu juga terus menentang kesepakatan gencatan senjata yang didorong oleh menteri pertahanan Israel, Yoav Gallant, yang akhirnya dipecat oleh Netanyahu karena perbedaan pendapat terkait perang ini.
Pada Juni 2024, Netanyahu menyatakan bahwa gencatan senjata permanen hanya akan diterima setelah kemampuan militer Hamas dihancurkan dan semua tawanan Israel dibebaskan. Sementara itu, Israel terus melakukan serangan udara di Gaza, terutama di wilayah utara yang telah terblokade sejak Oktober 2023.
Sumber yang sama mengonfirmasi bahwa Qatar telah memberi tahu AS bahwa mereka akan siap kembali menjadi mediator apabila kedua belah pihak menunjukkan keseriusan untuk kembali ke meja perundingan. Namun, seorang pejabat Hamas menyatakan bahwa kelompok tersebut belum menerima informasi apapun dari Qatar yang meminta mereka meninggalkan negara itu. Hamas tetap berkeras bahwa gencatan senjata harus diikuti oleh penarikan total pasukan Israel dari Gaza, menolak usulan yang hanya mencakup pembebasan beberapa tawanan Israel tanpa penarikan pasukan.
Sejak dimulainya perang Israel-Gaza lebih dari setahun lalu, lebih dari 43.500 warga Palestina tewas dan lebih dari 100.000 lainnya terluka akibat serangan Israel. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!