Prof. Reviono: Setelah Covid-19 Ada Penyakit Lain yang Perlu Diwaspadai

ED
Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:14 WIB
Bagikan
Prof. Reviono: Setelah Covid-19 Ada Penyakit Lain yang Perlu Diwaspadai

VISI.NEWS | SOLO - Tren kian menurunnya ancaman Covid-19 sebagai penyebab kematian dan kondisinya mengarah dari pandemi ke endemi, masih ada ancaman penyakit lain penyebab kematian dengan prevalensi cukup tinggi, di antaranya penyakit kanker dan penyakit jantung.

Meskipun virus Covid-19 tetap ada, diperkirakan pasien yang terinfeksi banyak yang akan terhindar dari kematian, karena daya imunitas masyarakat yang telah divaksinasi akan terus meningkat.

Sedangkan di sisi lain, setelah kemampuan Covid-19 kian melemah dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kesehatan, akan muncul virus baru yang meskipun cakupannya tidak meluas seperti pandemi Covid-19 akan mengancam kesehatan masyarakat. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK-UNS) Solo, Prof. Dr. Reviono, mengungkapkan masalah tersebut kepada VISINEWS, di sela peringatan ulang tahun ke-6 Rumah Sakit (RS) UNS, di lobi rumah sakit kawasan Pabelan, Kartasura, Rabu (10/8/2022).

"Akhir-akhir ini muncul ancaman cacar monyet yang sama berbahaya dengan virus Covid-19. Berkembangnya penyakit cacar monyet memang belum dinyatakan sebagai pandemi. Nanti ancaman bahayanya juga akan melemah, tetapi virusnya tidak akan hilang. Sebelumnya, juga ada virus H1N1 yang sampai sekarang tetap ada dan ancamannya bisa naik bisa turun," katanya.

Prevalensi penderita Covid-19 saat ini, menurut Prof. Reviono, seperti penderita akibat virus dan bakteri lain akan semakin terkontrol. Dalam pola alami, bakteri dan virus termasuk Covid-19 akan selalu terjadi peningkatan yang terkadang meledak, tetapi pada saat yang lain ancamannya akan menurun dan terkontrol.

"Yang pasti, dengan intervensi manusia dampak ancaman virus, bakteri dan kuman dapat diatasi. Seperti saat terjadi ledakan kasus Covid-19, dampaknya dapat diatasi dengan intervensi 5-M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Itu ditambah vaksinasi, bisa mengatasi dampak naiknya angka kematian," jelasnya. Di samping penyakit menular akibat virus, bakteri dan kuman, Prof. Reviono, menyebutkan, yang perlu diwaspadai adalah penyakit degeneratif yang menjadi penyebab kematian dengan prevalensi cukup tinggi.

"Sampai saat ada penyakit yang menjadi masalah dan sulit disembuhkan adalah kanker. Penyakit tersebut angka kematiannya relatif tinggi dan masih harus dicarikan obatnya. Kalau kanker rahim dan kanker payudara, misalnya, sudah bisa diatasi. Tetapi penderita kanker paru di kalangan perokok, sampai sekarang belum ada obatnya," tutur Prof. Reviono yang merupakan pakar spesialis penyakit paru.

Selain itu, dekan FK-UNS itu menyebut penyakit hipermetabolik, seperti kolesterol, diabetes dan sebagainya, termasuk gagal jantung tingkat kematiannya juga cukup tinggi.

Direktur RS-UNS, Prof. Hartono, ketika membeberkan perjalanan rumah sakit pendidikan UNS selama 6 tahun, menyebutkan, di RS-UNS yang pada puncak pandemi Covid-19 termasuk rumah sakit rujukan di Jawa Tengah tercatat menangani hampir 3.000 pasien. Namun pada 2022 ini jumlah pasien Covid-19 yang dirawat cenderung melandai. Sampai Agustus 2022 di RS-UNS hanya tercatat 538 pasien.

"Mudah-mudahan tahun ini pasien Covid-19 di RS-UNS tidak sampai 1.000. Dalam upaya menekan angka kematian pasien Covid-19, RS-UNS juga mengembangkan penelitian semacam plasma yang tidak kalah efektif dengan plasma convalesens. Sayangnya, plasma hasil penelitian RS-UNS masih digunaky sendiri dan tidak tercover kementerian kesehatan," ujar Prof. Hartono.

Dalam upaya menangani pasien dengan penyakit degeneratif yang berisiko gagal jantung, RS-UNS sudah menyiapkan pelayanan khusus yang yang bila telah beroperasi bisa menangani pemasangan ring, penanganan by pass dan sebagainya tanpa harus merujuk ke rumah sakit lain.

"Kita tinggal menunggu izin Bapeten dan persetujuan BPJS kesehatan agar pasien tercover JKN. Karena kalau pasien harus menanggung biaya tindakan gagal jantung sangat mahal," tandasnya.@tok

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.