Pola Asuh Strawberry Parents dan Dampak Negatifnya Terhadap Kehidupan Pernikahan Anak
Editor
Desi Rossilawati
Selasa, 31 Desember 2024 | 02:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Pola asuh yang dikenal dengan istilah strawberry parents sering kali membuat orangtua terlalu melindungi anak dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Namun, pendekatan ini dapat berdampak buruk dalam jangka panjang, bahkan hingga anak beranjak dewasa. Menurut Psikolog Klinis RS Dr Oen Solo Baru dan pengajar di Setiabudi University, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., salah satu efek negatifnya adalah anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh ini cenderung mengalami kesulitan dalam hubungan pernikahan di kemudian hari. "Dampak dari pola asuh ini bisa berlanjut hingga ke pernikahan," ungkap Joko pada Sabtu (28/12/2024).
Contohnya, seorang suami yang memiliki orangtua yang menerapkan pola asuh strawberry parents sering dimanjakan sejak kecil dengan semua keinginannya dipenuhi tanpa perlu berusaha. Orangtua cenderung mengambil alih setiap masalah yang dihadapi anak, sehingga anak tidak terbiasa untuk menghadapi tantangan secara mandiri. Namun, ketika menghadapi realita hidup yang sulit, seperti ketika keluarganya mengalami kebangkrutan, mentalitas "semua tersedia" menjadi tidak lagi relevan. Joko menjelaskan, "Ketika orangtuanya bangkrut, kehidupannya berubah drastis. Dia harus memulai dari nol."
Tidak jarang, ketika dihadapkan pada rintangan kecil, anak tersebut mudah menyerah, karena kebiasaannya bergantung pada orangtua yang selalu menyelesaikan masalah untuknya. Anak-anak ini sering kali jarang mengalami penolakan atau kekecewaan, karena setiap kesulitan diatasi oleh orangtua. "Semua masalah yang dihadapi anak ditangani oleh orangtua," tutur Joko.
Akibatnya, anak menjadi rentan dan kurang bertanggung jawab, bahkan dalam hubungan pernikahan. Sebagai contoh, seorang suami yang seharusnya bertanggung jawab atas nafkah keluarga malah menunjukkan sikap kurang berinisiatif, meskipun istrinya telah memberikan dukungan. Menurut Joko, "Ketika menghadapi masalah kecil, dia langsung menyerah dan berpikir 'Sepertinya ini tidak mungkin'."
Kondisi ini membuat pasangan mereka merasa tidak mendapatkan dukungan dan harus memikul beban sendirian. Stres yang tidak diungkapkan dapat muncul dalam bentuk gejala psikosomatis, yaitu gangguan fisik yang disebabkan oleh masalah psikologis. Oleh karena itu, penting untuk disadari bahwa pola asuh yang terlalu melindungi dan memanjakan tidak hanya berdampak pada anak dalam masa kecil, tetapi juga memiliki konsekuensi yang besar bagi hubungan mereka di masa dewasa. Orangtua perlu mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab sejak dini agar anak siap menghadapi tantangan hidup dan membangun hubungan yang sehat di masa depan. "Ini adalah contoh nyata bagaimana dampaknya dapat berlanjut hingga ke pernikahan, dan banyak klien saya mengalami masalah serupa," tutup Joko. @berlin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!