Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026

PMPHI Sumut Desak Cabut SK 28 Perusahaan, Soroti Kayu Gelondongan

Desi Rossilawati
Selasa, 14 April 2026 | 16:15 WIB
Bagikan
PMPHI Sumut Desak Cabut SK 28 Perusahaan, Soroti Kayu Gelondongan

Koordinator Wilayah PMPHI Sumut, Gandi Parapat (kanan) usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

VISI.NEWS | JAKARTA - Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Sumatera Utara kembali mendesak pemerintah mencabut Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan terkait penutupan 28 perusahaan di Sumatera Utara yang dikaitkan dengan banjir bandang November 2025.

Desakan tersebut kembali menguat usai perwakilan PMPHI Sumut menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI bersama Menteri Kehutanan. Mereka mengaku kecewa karena pembahasan dalam rapat tersebut dinilai belum menjawab inti persoalan yang sejak awal disampaikan kepada DPR maupun pemerintah.

“Kami khusus datang lagi untuk mendengar RDP Komisi IV dengan Menteri Kehutanan tentang apa yang kami sampaikan, bahwa Menteri Kehutanan mencabut beberapa izin perusahaan di Sumatera Utara terkait banjir bandang November 2025. Namun pembahasan tadi tidak sesuai dengan harapan kami,” ujar Koordinator Wilayah PMPHI Sumut, Gandi Parapat, di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Gandi berharap, dalam rapat tersebut fokus pada pembahasan asal-usul kayu gelondongan yang hanyut saat banjir bandang dan diduga menyebabkan korban jiwa serta merusak aset masyarakat.

“Kayu-kayu gelondongan yang membuat orang meninggal dan merusak aset masyarakat itu kayu siapa? Apakah itu milik perusahaan yang izinnya dicabut? Itu yang kami harapkan dibahas secara jelas,” katanya.

Ia menilai, pencabutan izin perusahaan tidak boleh dilakukan tanpa pembuktian yang terang, terutama terkait hubungan antara perusahaan dengan kayu-kayu gelondongan yang ditemukan di lokasi bencana.

“Kalau masalah kesalahan perusahaan-perusahaan itu, jangan setelah ada pencabutan baru dicari kesalahan,” tegasnya.

Sebelumnya, PMPHI Sumut telah meminta pemerintah mencabut SK Kementerian Kehutanan terkait penutupan 28 perusahaan. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR RI, pada Senin (6/4/2026), Gandi menilai kebijakan tersebut dilakukan secara tergesa-gesa dan belum didukung bukti yang kuat.

“Menurut kami ini keputusan yang gegabah. Setelah kami melakukan penelitian, tidak ada perusahaan yang dicabut izinnya itu terbukti menyebabkan banjir atau mengakibatkan korban jiwa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak kebijakan tersebut terhadap para pekerja yang kini kehilangan mata pencaharian. Menurutnya, para karyawan justru ikut menerima stigma negatif dari masyarakat, padahal belum ada kepastian soal pihak yang benar-benar bertanggung jawab.

“Para karyawan dituduh sebagai penyebab kerusakan bahkan kematian oleh masyarakat sekitar. Ini sangat menyakitkan bagi mereka,” katanya.

Selain meminta evaluasi kebijakan, PMPHI Sumut mendesak pemerintah membuka data dan bukti yang digunakan dalam keputusan penutupan perusahaan, termasuk asal-usul kayu gelondongan yang selama ini disebut sebagai salah satu pemicu tragedi.

“Ada kayu gelondongan yang tidak jelas itu milik siapa, tapi seolah-olah perusahaan yang ditutup yang disalahkan. Ini harus diteliti lebih lanjut,” tegas Gandi.

Ia berharap DPR melalui Komisi IV dapat mendorong pemerintah untuk meninjau ulang SK tersebut, sekaligus membuka hasil penyelidikan secara transparan agar masyarakat mengetahui siapa pihak yang sebenarnya bertanggung jawab atas banjir bandang tersebut.

Menurut PMPHI Sumut, langkah itu penting agar tidak ada pihak yang dirugikan tanpa dasar hukum yang kuat, termasuk para pekerja yang kini kehilangan pekerjaan akibat pencabutan izin perusahaan. @givary

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.