Peta Kerusuhan Akhir Agustus 2025: Analisis “Guru Gembul”

ED
Jumat, 12 September 2025 | 08:33 WIB
Bagikan
Peta Kerusuhan Akhir Agustus 2025: Analisis “Guru Gembul”

Dari lapangan, ia mengutip kesaksian para pengemudi ojek online: ada rombongan pemuda datang dari pinggiran kota membawa molotov; para ojol memilih fokus mengevakuasi korban. Baginya, ini mempertegas garis tebal antara “demonstran” dan “perusuh”: yang pertama menuntut, yang kedua bekerja sistematis. Siapa yang mengkomando? Ia kembali meminta penonton menunda vonis.

Untuk membantu publik membaca keos, ia memetakan “tujuh kelompok”: (1) demonstran asli—mahasiswa, buruh, ojol—yang berniat damai; (2) kelompok pembenci pemerintah yang menunggang momentum; (3) penjahat/oligark/koruptor yang diuntungkan bila negara gaduh; (4) kelompok ideolog dari berbagai spektrum; (5) politisi yang mengamankan diri atau kekuasaan; (6) faksi di tubuh aparat yang saling silang kepentingan; (7) preman dan kelompok marginal yang dimobilisasi. Peta ini adalah kerangka analitis—bukan vonis pidana.

Di atas “tujuh kelompok” itu, ia menghamparkan “lima lapis” kerja: perencana demo (tujuan artikulasi tuntutan), perencana kerusuhan (elit yang benci penguasa/diuntungkan keos), donatur (membiayai logistik dan mobilisasi), penyokong di media sosial (menggeser fokus isu), serta pelaksana lapangan (dari oknum aparat hingga kelompok profesional tak dikenal). Lapisan-lapisan ini, klaimnya, sering tumpang tindih.

Karena itu, tudingan tunggal terhadap satu institusi—apalagi lembaga negara—dinilainya berbahaya. Sejarah mengajarkan, kata dia, aksi lapangan bisa dilakukan “orang berseragam”, tetapi itu tak otomatis berarti kebijakan institusi. Di sini ia menegaskan lagi pesan pembuka: bukan Ferry Irwandi yang menuding, dan kesimpulan menyapu-bersih adalah jebakan di tengah kabut.

Guru Gembul juga mengkritik ekosistem viral yang kerap menyulut emosi, mengalihkan fokus publik dari inti tuntutan: transparansi anggaran, pemiskinan koruptor lewat regulasi perampasan aset, dan pengurangan privilese pejabat. “Jangan pindah fokus,” begitu kira-kira seruannya; jangan biarkan linimasa menggiring amarah ke sasaran yang keliru.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.