Peta Baru Bisnis 2026 Versi Rhenald Kasali: AI, Amarah Publik, dan Matinya Budaya Kantor

ED
Minggu, 18 Januari 2026 | 10:08 WIB
Bagikan
Peta Baru Bisnis 2026 Versi Rhenald Kasali: AI, Amarah Publik, dan Matinya Budaya Kantor

VISI.NEWS | JAKARTA - Dunia bisnis Indonesia tengah memasuki fase perubahan paling radikal dalam beberapa dekade terakhir. Bukan semata karena teknologi, melainkan pergeseran cara publik memaknai kebenaran, bekerja, dan mengambil keputusan ekonomi—sebuah kombinasi yang membuat politik, media, dan bisnis kian saling bertaut.

Gambaran itu disampaikan Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, dalam Breakfast Talk bertajuk Business Outlook 2026 di Andaliman Resto & Cafe, Rumah Perubahan, Jakarta Escape, Sabtu (17/1/2026).

Menurut Rhenald, pengambilan keputusan bisnis ke depan akan sangat ditentukan oleh big data yang diolah dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi bukan hanya mempercepat proses, tetapi juga membentuk persepsi publik yang kian emosional.

“Bagi Gen Z, apa yang ada di internet itu adalah kebenaran, nyata. Sementara bagi orang tua, yang real adalah apa yang mereka alami langsung. Bagi generasi tua, media sosial, kebenarannya mungkin hanya 20 persen,” kata Rhenald.

Jurang persepsi antar-generasi itu, kata dia, menciptakan ruang abu-abu yang rawan dimanfaatkan. Media sosial tak lagi sekadar medium komunikasi, melainkan medan baru kejahatan ekonomi dan mungkin saja politik—mulai dari hoaks, disinformasi, hingga penipuan berbasis phishing yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.

“Dulu, AI bisa ditipu manusia. Tapi sekarang, AI-lah yang menipu manusia,” ujar Rhenald.

Ia menilai, tantangan bisnis 2026 bukan hanya soal daya beli dan pertumbuhan, melainkan krisis kepercayaan di ruang digital. Polarisasi antara media arus utama dan media sosial makin tajam. Media konvensional bergantung pada iklan dan regulasi, sementara media sosial bergerak liar, cepat, dan emosional—sering kali tanpa verifikasi.

Dalam konteks ketenagakerjaan, Rhenald menyoroti perubahan sikap Generasi Z yang semakin enggan bekerja kantoran dan menolak struktur kerja formal. Fenomena ini dikenal sebagai “conscious unbossing”—keengganan generasi muda untuk menjadi manajer atau berada dalam hierarki kerja konvensional.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.