Pertahanan Udara Israel Terancam Lumpuh, Sistem Arrow Mulai Kehabisan Stok
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 19 Juni 2025 | 21:00 WIB
VISI.NEWS | ISRAEL - Di tengah memanasnya konflik bersenjata antara Israel dan Iran, laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa sistem pertahanan rudal Israel, terutama Arrow mulai kehabisan stok. Situasi ini muncul pada hari ketujuh perang, Kamis (19/6/2025), setelah Iran melancarkan lebih dari 370 rudal dan ratusan drone ke wilayah Israel sejak serangan dimulai pada 13 Juni lalu.
Menurut The Wall Street Journal, pemerintah Amerika Serikat menyadari kondisi kritis ini dan berusaha membantu memperkuat sistem pertahanan udara Israel. Namun demikian, stok rudal pertahanan yang dimiliki AS juga dilaporkan terbatas, sebagaimana diberitakan oleh The Times of Israel.
Laporan The Washington Post menyebutkan bahwa Israel diperkirakan hanya mampu mempertahankan sistem pertahanannya selama 10 hingga 12 hari, jika intensitas serangan Iran tetap seperti saat ini, tanpa bantuan logistik tambahan dari AS.
Seorang narasumber yang mengetahui asesmen tersebut mengungkapkan bahwa Israel bahkan sudah mulai memilih rudal mana yang perlu dicegat dan mana yang dibiarkan jatuh, terutama jika diperkirakan akan mendarat di wilayah terbuka.
“Sistemnya sudah kewalahan,” ujar sumber tersebut.
Serangan massal membuat Israel tidak mampu menembak jatuh semua rudal, terutama yang mengarah ke pusat permukiman atau infrastruktur vital.
Meski belum ada komentar resmi dari pemerintah Israel, militer Israel atau IDF mengonfirmasi kepada WSJ bahwa mereka siap menghadapi segala skenario, namun menolak memberikan keterangan soal persediaan amunisi.
Sementara itu, intensitas serangan dari pihak Iran dilaporkan mulai berkurang dibandingkan hari-hari awal konflik. Namun, tingkat keberhasilan rudal Iran mencapai target masih setara dengan serangan besar sebelumnya yang terjadi pada April dan Oktober 2024.
Sistem pertahanan Arrow bukan satu-satunya yang digunakan Israel dan sekutunya. Amerika Serikat juga memiliki sistem pertahanan Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Air Defense) yang berbasis di Timur Tengah. Selain itu, kapal perang Angkatan Laut AS turut ambil bagian dalam menembak jatuh proyektil Iran yang mengancam wilayah Israel.
Namun, para analis mencatat bahwa rudal balistik Iran sangat sulit dicegat karena memiliki waktu terbang yang singkat, hanya sekitar 10 menit, sehingga memerlukan sistem deteksi dan respons supercepat yang tidak dimiliki semua negara sekutu Israel di kawasan. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!