Pemkot Surabaya Dorong Program Kota Layak Anak
Kemudian, indikatornya juga adanya sumber daya manusia (SDM) yang menangani persoalan responsif gender dan layak anak.
Indikator selanjutnya, yakni ketersediaan sarana dan prasarana serta alokasi dana penunjang untuk kampung responsif gender dan layak anak.
Tak hanya itu, data permasalahan gender dan anak yang terjadi di suatu kampung dan program riil yang diterapkan di lapangan dalam menangani permasalahan gender dan layak anak.
Lebih lanjut Martadi menjelaskan, Pemkot Surabaya juga akan melibatkan atau memberi ruang kepada mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat untuk membantu program agar maksimal.
"Setelah kita rekrut (mahasiswa atau lembaga swadaya), akan dibekali mengenai program ini agar sama persepsinya dengan program ini secara berkelanjutan. Kalau hanya mengandalkan jajaran DP3A-PPKB tentu akan kurang maksimal," tuturnya.
Ia berharap, program ini bisa mengatasi persoalan responsif gender dan anak ini bisa terus dilakukan di Surabaya.
Semakin kompleksnya persoalan kasus kekerasan perempuan dan anak di perkotaan, dirinya ingin kasus-kasus tersebut bisa ditangani secara berkelanjutan dan tidak menunggu saat terjadi permasalahan.
"Oleh karena itu harus dibangun mulai dari hulu ke hilir, juga diimbangi dengan kegiatan-kegiatan preventif di perkampungan untuk menekan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak," tandasnya.@redho
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!