Pemakaman Khamenei Memanas, Iran Kobarkan Dendam kepada AS dan Israel
VISI.NEWS – Iran menggelar salat jenazah dan upacara penghormatan besar-besaran bagi mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu, dalam salah satu pertemuan publik terbesar para petinggi politik dan militer negara itu sejak konflik bersenjata yang, menurut laporan sumber, menewaskannya awal tahun ini.
Dikutif dari Saudi Gazette, Minggu (5/3/3036), Ratusan ribu pelayat memadati Grand Mosalla, Teheran, untuk mengikuti salat jenazah yang dipimpin Ayatollah Jafar Sobhani. Selain Khamenei, doa juga dipanjatkan bagi sejumlah anggota keluarganya yang disebut turut tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Upacara tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting Republik Islam Iran, di antaranya Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, Komandan Garda Revolusi Jenderal Ahmad Vahidi, Komandan Pasukan Quds Esmail Qaani, serta putra-putra Khamenei, yakni Masoud, Meysam, dan Mostafa.
Sorotan utama dalam prosesi itu adalah tidak hadirnya Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Menurut laporan yang beredar, Mojtaba belum pernah tampil di depan publik sejak dikabarkan mengalami luka dalam serangan yang menewaskan ayahnya. Hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menjelaskan kondisi kesehatannya maupun alasan ketidakhadirannya.
Absennya Mojtaba memunculkan berbagai spekulasi di tengah situasi politik dan keamanan Iran yang masih tegang pascakonflik.
Seruan Anti-Amerika dan Anti-Israel Menggema
Prosesi pemakaman berlangsung di tengah meningkatnya sentimen anti-Amerika Serikat dan anti-Israel. Banyak pelayat membawa spanduk yang mengecam kedua negara serta menyerukan pembalasan atas kematian Khamenei.
Penyair Mohammad Rasouli yang memandu acara memimpin massa meneriakkan slogan "Mati untuk Amerika" dan "Mati untuk Israel". Ia juga menyampaikan pernyataan yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang disambut sorak-sorai para hadirin.
Sebagian peserta pemakaman bahkan menyerukan aksi balas dendam terhadap Trump. Kalangan garis keras Iran masih mengaitkannya dengan ketegangan berkepanjangan antara kedua negara sejak operasi militer Amerika Serikat pada 2020 yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani.
Trump Klaim AS Lumpuhkan Militer Iran
Di saat prosesi penghormatan berlangsung di Teheran, Presiden Donald Trump menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat di Washington.
Dalam pidatonya, Trump memuji operasi militer Amerika Serikat dan menyatakan bahwa negaranya telah "melumpuhkan" kekuatan militer Iran selama konflik terbaru. Pernyataan tersebut merupakan klaim dari pihak Amerika Serikat dan belum disertai penilaian independen dalam laporan ini.
Kontras antara suasana berkabung di Iran dan pidato kemenangan di Washington semakin memperlihatkan dalamnya jurang permusuhan antara kedua negara.
Pemerintah Iran memutuskan menunda seluruh agenda perundingan dengan Amerika Serikat hingga seluruh rangkaian prosesi pemakaman Khamenei selesai dilaksanakan.
Keputusan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran masih memprioritaskan konsolidasi politik dalam negeri sebelum kembali membuka jalur diplomasi dengan Washington.
Prosesi Berlanjut Hingga Pekan Ini
Rangkaian pemakaman dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari. Jenazah Khamenei akan diarak mengelilingi Teheran sebelum dibawa ke Kota Qom untuk penghormatan terakhir.
Selanjutnya, jenazah dijadwalkan dibawa ke Irak sebelum akhirnya dimakamkan pada Kamis di Kompleks Makam Imam Reza di Mashhad, kota kelahirannya.
Prosesi tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu pemakaman terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran, sekaligus menjadi simbol penting bagi elite politik dan militer negara itu di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!