Misbakhun: Indonesia Tak Boleh Takut, Tarif AS Jadi Momentum Perkuat Kedaulatan
Editor
Desi Rossilawati
Jumat, 25 April 2025 | 06:32 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menanggapi isu tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) dengan seruan tegas agar Indonesia tidak gentar dan menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat kedaulatan nasional, khususnya di bidang ekonomi dan sistem pembayaran digital.
Berbicara dalam forum 'Dialektika Demokrasi' di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (24/4/2025), Misbakhun mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat tidak larut dalam kepanikan menghadapi tekanan dagang dari negara adidaya.
"Kita ini bangsa besar. Jangan sampai karena kebijakan satu negara, kita malah jadi ciut nyali. Justru ini saatnya kita menanamkan kembali semangat patriotik dan menunjukkan bahwa Indonesia tidak bisa ditakut-takuti," ujar Misbakhun.
Ia juga mengkritisi besarnya perhatian terhadap potensi dampak ekonomi dari AS, padahal menurutnya, kontribusi ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam hanya sekitar 2% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal itu menurutnya tidak cukup signifikan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Lebih jauh, Misbakhun menekankan pentingnya Indonesia melepaskan ketergantungan dari sistem pembayaran global seperti SWIFT, Visa, dan Mastercard yang dinilai menciptakan ketimpangan dalam arsitektur ekonomi dunia.
“Kita harus punya kedaulatan di sektor pembayaran digital. Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) adalah bentuk kemandirian. Kita tak bisa terus bergantung pada sistem asing yang hanya memperkuat hegemoninya,” tegasnya.
Ia pun menyambut baik kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang membuka ruang negosiasi dalam perdagangan internasional. Namun ia mengingatkan bahwa fleksibilitas itu harus tetap menjamin perlindungan terhadap industri dalam negeri.
“Kalau kita punya keunggulan, kita harus perkuat. Kalau belum siap, jangan dipaksakan. Yang penting, kepentingan nasional tetap menjadi prioritas dalam setiap negosiasi,” tambah Misbakhun.
Penutupnya disampaikan dengan nada optimis dan nasionalis.
“Amerika saja memikirkan kepentingan nasional mereka. Masa kita tidak," pungkasnya. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!