Merdeka Lebih Dekat di Gedung Sate

ED
PN
Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:11 WIB
Bagikan
Merdeka Lebih Dekat di Gedung Sate

VISI.NEWS — Ada suasana berbeda pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Jawa Barat, Senin (17/8/2026). Untuk pertama kalinya, halaman Gedung Sate menjadi tempat pelaksanaan upacara sekaligus ruang yang lebih terbuka bagi masyarakat.

Warga tidak lagi hanya menjadi penonton dari balik pagar. Mereka diberi kesempatan menyaksikan langsung rangkaian upacara, termasuk pertunjukan defile yang memperlihatkan barisan personel TNI, Polri, aparatur pemerintah hingga petugas pelayanan publik.

Bagi sebagian warga, kesempatan menginjakkan kaki di halaman Gedung Sate bukan sekadar pengalaman menghadiri sebuah upacara. Ada rasa bangga karena tempat yang selama ini identik dengan pusat pemerintahan Jawa Barat itu dibuka lebih dekat kepada rakyat.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertindak sebagai inspektur upacara. Di hadapan peserta dan masyarakat yang hadir, Dedi menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar seremoni peringatan kemerdekaan.

Ia mengawali amanatnya dengan permintaan maaf kepada masyarakat Jawa Barat.

Menurut Dedi, kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan seluruh warga Jawa Barat. Masih terdapat persoalan mendasar yang harus diselesaikan pemerintah, salah satunya akses terhadap listrik.

Ia menyebut masih ada lebih dari 80.000 warga Jawa Barat yang belum mendapatkan aliran listrik. Kondisi tersebut dinilai menjadi ironi karena Jawa Barat merupakan salah satu wilayah penting dalam penyediaan energi listrik nasional.

Di Jawa Barat terdapat sejumlah pembangkit energi besar, antara lain pembangkit listrik tenaga air di Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Selain itu, Jawa Barat juga memiliki potensi energi panas bumi yang besar.

Namun, keberadaan pusat-pusat pembangkitan energi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pemerataan akses listrik bagi seluruh masyarakat.

Bagi Dedi, persoalan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

"Maaf kepada rakyat Jawa Barat karena belum bisa memerdekakan seluruh rakyat," ujar Dedi dalam amanatnya.

Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam upacara kemerdekaan tahun ini.

Sebab, bagi Dedi, makna kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.

Listrik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan meningkatkan taraf hidup menjadi bagian dari kemerdekaan yang harus dirasakan rakyat.

APBD untuk Kemerdekaan yang Nyata

Dedi menegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memfokuskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Ia ingin anggaran pemerintah benar-benar memberikan manfaat langsung bagi rakyat, terutama bagi mereka yang selama ini belum memperoleh pelayanan dasar secara layak.

Dalam bidang kesehatan, Dedi menyampaikan pesan tegas agar tidak ada lagi masyarakat yang masuk rumah sakit dalam kondisi sakit, tetapi pulang dengan membawa utang karena tidak mampu membayar biaya pengobatan.

"Tidak boleh ada rakyat yang masuk ke rumah sakit, pulangnya hutang karena tidak mampu membayar. Tidak boleh ada rakyat yang operasi caesar, KTP ditahan rumah sakit karena tidak mampu bayar," ujar Dedi.

Pernyataan tersebut menggambarkan keinginannya agar pelayanan publik tidak berhenti pada administrasi, tetapi benar-benar menjadi perlindungan bagi masyarakat.

Menurutnya, negara harus hadir ketika masyarakat menghadapi situasi paling sulit.

Karena itu, ia mengajak seluruh unsur pemerintahan dan penegak hukum untuk bergerak bersama. Kepolisian, TNI, pengadilan, serta berbagai instansi pemerintah daerah diminta mengambil bagian dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Kemerdekaan, dalam pandangan Dedi, harus menjadi kerja bersama.

Bukan hanya tugas gubernur atau pemerintah daerah, tetapi tanggung jawab seluruh penyelenggara negara.

Berkorban dari Lingkar Kekuasaan

Dalam pidatonya, Dedi juga berbicara mengenai pengorbanan para penyelenggara negara.

Ia mengatakan dirinya rela menunda sejumlah kebutuhan yang berkaitan dengan fasilitas pribadi agar anggaran pemerintah dapat lebih banyak diarahkan untuk kepentingan masyarakat.

Dedi menyebut keputusan menunda pembelian pakaian baru menggunakan uang negara maupun menunda pembelian properti untuk rumah dinas sebagai bagian dari upaya mengutamakan kepentingan rakyat.

"Seluruh penundaan itu untuk mengangkat derajat supaya pendidikan masyarakat Jabar meningkat, minimal 12 tahun. Agar masyarakat Jabar kesehatannya meningkat, ekonomi meningkat, memiliki kesempatan kerja," katanya.

Bagi Dedi, ukuran keberhasilan pemerintah bukan seberapa banyak fasilitas yang dinikmati pejabat, tetapi seberapa besar perubahan kehidupan yang dirasakan masyarakat.

Ia bahkan mengingatkan para penyelenggara negara agar tidak menjadikan jabatan sebagai ruang untuk terus menuntut kenaikan tunjangan dan fasilitas.

"Jangan berpikir kenaikan tunjangan, menuntut fasilitas, padahal sudah besar. Kita harus malu. Harusnya kita membangun rasa adil pada seluruh rakyat," ujar Dedi.

Pesan itu menjadi refleksi lain dari peringatan kemerdekaan. Di tengah masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan, penyelenggara negara diminta lebih banyak memberi daripada menuntut.

Merdeka dari Ancaman Obat Terlarang

Dedi juga menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari agenda kemerdekaan Jawa Barat.

Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, ia menegaskan tekad untuk memerdekakan generasi muda dari berbagai hal yang dapat merusak masa depan mereka, termasuk obat-obatan terlarang.

Bagi Dedi, kemerdekaan generasi muda bukan hanya tentang kebebasan berekspresi dan memperoleh pendidikan, tetapi juga terbebas dari ancaman yang dapat menghancurkan masa depan.

Generasi muda yang sehat, terdidik, memiliki kesempatan kerja, dan mampu mengembangkan potensi dinilai menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembangunan Jawa Barat.

Karena itu, semangat kemerdekaan harus diteruskan melalui upaya melindungi generasi muda dari berbagai ancaman sosial.

Gedung Sate Dibuka Lebih Dekat

Jika amanat gubernur berbicara tentang makna kemerdekaan dalam kehidupan rakyat, suasana di halaman Gedung Sate menghadirkan gambaran lain tentang bagaimana jarak antara pemerintah dan masyarakat dapat dipersempit.

Untuk pertama kalinya, masyarakat diperbolehkan menyaksikan upacara dari jarak lebih dekat.

Kehadiran warga terlihat antusias. Mereka tidak hanya datang untuk mengikuti peringatan kemerdekaan, tetapi juga ingin merasakan langsung suasana upacara di halaman salah satu ikon pemerintahan Jawa Barat tersebut.

Salah seorang warga asal Soreang, Maryam, mengaku terkejut ketika masyarakat dipersilakan mendekati panggung tamu untuk menyaksikan defile.

Ia mengatakan, selama ini kegiatan di sekitar Gedung Sate identik dengan penjagaan yang ketat.

"Biasanya penjagaan ketat, saya kaget pas warga bisa lihat lebih dekat defile," ucap Maryam.

Bagi Maryam, kesempatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda. Ia merasa bangga karena untuk pertama kalinya dapat menginjakkan kaki di halaman Gedung Sate.

"Setelah dibuka seperti ini lumayan bangga karena bisa menginjakkan kaki di Gedung Sate sebagai rakyat biasa," katanya.

Bukan hanya soal melihat upacara dari dekat, bagi Maryam, ruang terbuka yang diberikan kepada masyarakat menghadirkan perasaan bahwa peringatan kemerdekaan memang menjadi milik seluruh rakyat.

Dari Balik Pagar ke Tengah Perayaan

Pengalaman serupa dirasakan Tini, warga Pasirkoja.

Sebelumnya, ia belum pernah masuk ke halaman Gedung Sate. Selama ini, ia hanya dapat berdiri di luar kawasan tersebut ketika melihat berbagai kegiatan.

"Bangga tahun ini bisa masuk karena sebelumnya berdiri di luar Gedung Sate saja," ujar Tini.

Kehadiran Tini bersama anaknya menjadi pengalaman keluarga yang tidak terlupakan.

Anaknya dapat menyaksikan langsung barisan tentara, polisi, hingga petugas penyapu jalan yang mengikuti defile.

Bagi Tini, pemandangan tersebut memiliki nilai tersendiri. Anak-anak tidak hanya melihat upacara melalui layar atau dari kejauhan, tetapi dapat menyaksikan langsung berbagai unsur yang menjadi bagian dari kehidupan negara.

Ia juga merasa senang karena dapat melihat Dedi Mulyadi dari jarak yang lebih dekat.

Defile yang biasanya hanya dapat disaksikan masyarakat dari balik batas pengamanan kali ini terasa lebih dekat. Barisan personel berjalan di hadapan warga, menciptakan suasana yang lebih cair dan meriah.

Ketika Rakyat Menjadi Bagian dari Upacara

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di halaman Gedung Sate akhirnya menghadirkan dua wajah kemerdekaan sekaligus.

Di satu sisi, terdapat wajah negara dengan segala perangkatnya: gubernur, TNI, Polri, aparatur pemerintah, dan petugas pelayanan publik yang mengikuti rangkaian upacara.

Di sisi lain, ada wajah rakyat yang hadir membawa keluarga, anak-anak, dan rasa ingin tahu untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah upacara kenegaraan berlangsung.

Keduanya bertemu di halaman Gedung Sate.

Di tempat itulah pesan tentang kemerdekaan disampaikan bukan hanya melalui pidato, tetapi juga melalui pengalaman sederhana: rakyat dapat masuk, melihat, mendekat, dan merasakan bahwa ruang pemerintahan juga merupakan bagian dari ruang publik.

Pemandangan warga yang berdiri di halaman Gedung Sate, menyaksikan defile, dan mengabadikan momentum bersama keluarga menjadi simbol kecil dari semangat yang ingin dibangun pada peringatan kemerdekaan tahun ini.

Kemerdekaan yang Tidak Berhenti di Upacara

HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya bukan sekadar tentang pengibaran Sang Merah Putih dan penghormatan kepada para pahlawan.

Di Jawa Barat, peringatan tahun ini juga menjadi momentum untuk mempertanyakan kembali arti kemerdekaan bagi masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan.

Masih adanya puluhan ribu warga yang belum memperoleh listrik, tantangan akses kesehatan, kebutuhan pendidikan minimal 12 tahun, kesempatan kerja, peningkatan ekonomi, serta perlindungan generasi muda menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab pemerintah.

Pesan Dedi Mulyadi pun menjadi penegasan bahwa kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi pelayanan.

Sementara keterbukaan halaman Gedung Sate memberikan simbol bahwa pemerintah dan rakyat tidak seharusnya selalu dipisahkan oleh pagar.

Sebab, pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang berdiri di atas panggung upacara.

Kemerdekaan adalah milik rakyat yang hadir di halaman, mereka yang menyaksikan dari balik pagar, mereka yang bekerja di jalanan, mereka yang menjaga keamanan, mereka yang membersihkan kota, dan seluruh warga yang berharap negara benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dari halaman Gedung Sate pada 17 Agustus 2026, pesan itu terasa sederhana tetapi kuat: merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan ketika setiap rakyat memiliki kesempatan untuk hidup layak, sehat, berpendidikan, bekerja, dan menatap masa depan tanpa rasa takut.

Dan ketika pintu Gedung Sate dibuka lebih lebar, rakyat seolah sedang diingatkan bahwa rumah pemerintahan itu pada akhirnya dibangun untuk mereka.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.