Mengapa Stres Dapat Mengubah Nafsu Makan? Ini Penjelasannya
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 25 Januari 2025 | 02:30 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Stres adalah bagian dari kehidupan yang sulit dihindari, dan salah satu dampaknya adalah perubahan pada nafsu makan. Beberapa orang kehilangan selera makan, sementara lainnya justru mengalami peningkatan nafsu makan. Mereka yang cenderung makan lebih banyak sering mengincar makanan manis, asin, atau berlemak. Fenomena ini dikenal sebagai stress eating atau makan berlebih akibat stres.
Tubuh merespons stres dengan melepaskan hormon kortisol, yang berfungsi meningkatkan nafsu makan, khususnya terhadap makanan berkalori tinggi. Respons ini awalnya dirancang untuk membantu tubuh menghadapi ancaman fisik. Namun, dalam kehidupan modern, stres lebih sering muncul karena tekanan pekerjaan atau masalah sehari-hari.
Selain kortisol, hormon ghrelin, yang dikenal sebagai hormon lapar, juga meningkat saat stres, memperkuat dorongan untuk makan lebih banyak. Faktor lain seperti kurang tidur, penurunan aktivitas fisik, dan gaya hidup tidak sehat turut memperburuk kondisi ini.
Sementara itu, pada fase awal stres, tubuh melepaskan adrenalin yang dapat menekan nafsu makan secara sementara. Namun, jika stres berlangsung lama, kadar kortisol yang tinggi dapat memicu kebiasaan makan berlebih, terutama pada makanan yang dianggap menenangkan atau comfort food. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!