Mencintai Rasulullah Mencintai Kebaikan
Rasulullah justru menjenguknya sambil membawakan kurma segar untuknya. Jadi, untuk bisa memaafkan orang yang telah berbuat zalim, memang memerlukan kebesaran hati yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah dalam segala tindak-tanduknya.
Seringkali kita mudah terbawa arus sosial sehingga perilaku kita tergantung pada suasana hati yang bersifat situasional. Tetapi, loyalitas dan kecintaan pada Rasulullah tidak mungkin bisa dikendalikan oleh apa-apa yang sedang ngetren dalam kehidupan masyarakat sosial.
Orang mau berbuat apa pun kepadanya, dia tetap konsisten pada nilai kebaikan, karena itulah yang diperintahkan Allah, serta dicontohkan oleh akhlak Rasulullah. “Tak ada masalah bagi orang yang baik kualitas imannya, karena ia akan teguh bersabar di saat keburukan menimpanya, serta terus bersyukur saat kenikmatan datang menghampirinya,” kata Rasulullah.
Orang semacam itu tidak terkontrol oleh masyarakat sosial, karena ketika ia diperlakukan buruk oleh orang lain, ia tak ada gairah untuk membalasnya dengan keburukan yang sama. Justru ia akan berbalik dengan perbuatan baik, karena memang seperti itulah yang dicontohkan oleh akhlak Rasulullah.
Ia tidak terpengaruh oleh pasang-surut gelombang zaman. Apapun reaksi masyarakat terhadap zaman, tak ada urusan dengan dirinya. Bahkan, sekalipun diberitahu bahwa hari esok akan datang kiamat, tetap saja ia menanam sebatang pohon yang siap ditanam pada hari ini.
Rasa cinta kepada Rasulullah itulah yang menjadi tanda umat Islam menyukai sejarah dan literatur tentang kenabian Muhammad saw. Mereka tidak hanya memahami sepenggal-sepenggal hadis yang disodorkan tanpa ada sanad yang jelas (dhaif), akan tetapi berusaha dengan tekun menelusuri alur kebenarannya.
Karena bagaimanapun, “Orang yang dikehendaki kebaikan terhadapnya, Tuhan akan memudahkan baginya pemahaman tentang segala sesuatu,” demikian sabda Nabi. Masalahnya, kita mau serius mencintai Rasulullah atau hanya sekadar gagah-gagahan menjadi fanatik kepada figur atau tokoh tertentu yang mengaku-ngaku keturunan Rasulullah, namun sikap hidupnya tak sesuai dengan akhlak Rasulullah?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!