Masagi Cibogo Sulap Kantong Kresek Bekas Jadi Produk Bernilai
Komunitas dari Kampung Cibogo, RT 04 RW 04, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, memperkenalkan produknya di Festival Seni dan Budaya Tamansari, Sabtu (15/8/2026)./visi.news/Pemprov Jabar.
VISI.NEWS - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pemanfaatan kantong kresek bekas menjadi produk bernilai guna.
Komunitas Masagi Cibogo mengolah limbah tersebut menjadi dompet, tas belanja, tas laptop, dan alas duduk untuk mengurangi timbulan sampah.
Komunitas dari Kampung Cibogo, RT 04 RW 04, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, memperkenalkan produknya di Festival Seni dan Budaya Tamansari, Sabtu (15/8/2026).
Anggota Komunitas Masagi Cibogo Enung Siti Oliah mengatakan pengolahan dilakukan melalui proses penganyaman hingga menghasilkan berbagai barang yang dapat digunakan kembali.
“Kami menjual produk olahan dari limbah kantong kresek bekas. Kami olah, anyam, dan setelah anyaman jadi, dibuat menjadi produk-produk berguna,” ujar Enung dalam keterangannya dikutip dari laman resmi Pemprov Jabar, Selasa (18/8/2026).
Pengolahan tersebut membantu mengalihkan kantong kresek dari tempat pembuangan sementara sekaligus membuka peluang pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat.
“Semata-mata hanya ingin salah satunya itu untuk mengampanyekan bahwa warga masyarakat harus bertanggung jawab atas sampahnya,” ungkapnya.
Dompet berbahan anyaman kantong kresek menjadi salah satu produk yang paling diminati masyarakat dalam kegiatan tersebut.
Produk lainnya meliputi tas belanja, tas laptop, serta anyaman berukuran sekitar 40×40 sentimeter untuk alas duduk atau tikar.
Harga produk berkisar Rp75.000 hingga lebih dari Rp200.000 tergantung jenis, tingkat kesulitan, dan waktu pengerjaannya.
Enung menjelaskan sebagian besar proses produksi masih dilakukan manual sehingga membutuhkan ketelitian dan keterampilan warga.
“Kalau untuk menganyam, ada yang bisa sehari, ada yang bisa seminggu. Khususnya untuk kantong belanja itu kurang lebih dua mingguan untuk sampai jadi, dari mulai menganyam sampai jadi tas seperti ini,” jelas Enung.
Pembuatan tas belanja membutuhkan waktu berbeda pada setiap bagian, dengan badan tas dapat memerlukan sekitar satu minggu untuk dianyam.
Pemanfaatan limbah tersebut menunjukkan pengelolaan sampah dapat menghasilkan produk kreatif sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap tanggung jawab lingkungan.
Kegiatan komunitas juga membuka peluang ekonomi dengan mengubah bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi barang yang dapat digunakan dan dipasarkan.
Pemkot Bandung mendorong praktik serupa agar pengurangan sampah berjalan bersama pemberdayaan masyarakat dan pengembangan produk kreatif berbasis lingkungan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!