Maka, Lupakan Pujian…
Oleh Asro Kamal Rokan
SEORANG sahabat, pemimpin perusahaan besar, merasa galau. Belakangan ini dia gampang tersinggung. Ketika beberapa karyawan berkumpul, dia merasa mereka sedang memperbincangkan dirinya. Ketika mereka tertawa, dia merasa mereka menertawakan dirinya.
Kebiasaannya membuka e-mail, membaca kesan-kesan lucu, atau artikel mengandung hikmah yang dikirim teman-temannya, kini sudah ditinggalkannya. Padahal dahulu, dia rajin membuka e-mail dan membalas cerita-cerita lucu dari teman-temannya. Bahkan, terkadang dia sendiri yang mengirim artikel-artikel ke teman-temannya.
Ruang kerjanya juga sepi dari lagu-lagu cinta Demis Roussos, Everly Brothers, dan Tom Jones, yang selalu diputar di komputer mengiringinya kerja. Dahulu, ruang kerjanya selalu terbuka untuk staf, bahkan karyawan, mengadukan persoalan pekerjaan. Kini, hanya beberapa staf tertentu atas diizinkannya.
Permintaan berteman di facebook, tidak lagi dipedulikannya. Dia tak mau terhubung dengan teman-temannya karena kecewa seorang sahabat mengirim potongan puisi Jalaluddin Rumi: Mari kita tinggalkan kekanak-kanakkan dan menuju ke kelompok manusia.
Sahabat yang mengirim catatan di facebook itu, sesungguhnya tidak bermaksud menyindirnya dan tidak pernah tahu situasi hati sahabatnya itu. Namun, dia merasa tersindir dan karena itu dia marah sekali.
Dia membalas catatan itu: Apa kamu pikir saya kekanak-kanakkan dan bukan manusia?
Bukan puisi Rumi itu yang membuatnya marah, melainkan hatinya sedang gelisah. Dua pekan lalu, dalam pertemuan dengan karyawan, ada yang mengkritik kinerjanya secara terbuka. Dia juga medengar sayup-sayup soal ketidakpuasan karyawan, terutama soal kesejahteraan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!