Maka, Lupakan Pujian…

ED
Minggu, 7 Agustus 2022 | 19:57 WIB
Bagikan
Maka, Lupakan Pujian…

Dalam situasi demikian, kata-kata bijak pun bisa dianggap sebagai penghinaan. Senyum tulus dianggap sebagai ejekan. Sebaliknya, racun yang disajikan dengan cawan pujian, bisa dianggap sebagai hadiah tak terkira.

Ada saatnya, orang kehilangan pegangan dan terseret ke tempat yang menurutnya indah, namun sesungguhnya jebakan. Dan, dia menikmatinya; seperti aktor dalam gemuruh tepuk tangan.

Seorang pemimpin ada kalanya terjebak dalam kesepian. Dia merasa telah melakukan banyak hal untuk kebaikan bersama, banyak prestasi, namun tetap saja dikritik. Dia merasa telah mencurahkan semua kemampuan, waktu, dan perasaan, namun tetap saja dianggap tidak cukup.

Pada saat-saat seperti itu — tekanan perasaan dan merasa tidak diapresiasi — para pemimpin memerlukan air bagi dahaganya. Air itu adalah pujian. Dia merasa lebih berarti dalam rimbun pujian meski itu racun dan mematikan.

Dia lebih suka dan bahkan sangat percaya kepada orang-orang yang memujinya. Sejak itu, dia dikelilingi orang-orang yang suka memujinya. Mereka mendapatkan banyak, sedangkan sahabat itu meneguk racun dalam cawan emas.

Dia kehilangan rasionalitas; dan menganggap orang yang mengkritik adalah musuh nyata yang harus disingkirkan.

Wahai sahabat yang kesepian, cawan pujian itu indah, terbuat dari emas dan permata. Seindah apa pun cawan itu, tidak lagi berarti apa-apa ketika isinya kau teguk.

Berhentilah melayang karena pujian, turunlah ke bumi nyata. Percayalah pada kehendak Allah, bukan kepada mereka yang suka memuji dan peramal yang hidup dari gelembung asap yang mudah sekali menguap. Ketika gelembung itu pecah, percayalah mereka akan pergi. Kau akan sendiri.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.