Mahasiswa UIN Jakarta Kecewa Melihat Perkembangan Demokrasi di Ujung Pemerintahan Jokowi
"Netralitas pemilu 2024 dalam ancaman besar karena anak presiden maju sebagai calon, kita tidak bisa mengharapkan presiden dapat netral dan akibatnya legitimasi pemilu 2024 dipertanyakan, " ujar pria berkacamata ini.
Senada dengan Abid, Pakar ekonomi Faisal Basri menyatakan bahwa kemunculan dinasti politik mempersulit harapan agar Pemilu berlangsung netral. Sentralisasi kekuasaan dalam dinasti politik dianggap sebagai ancaman terhadap nilai-nilai demokrasi. Ia juga menyebut pemerintah Jokowi selama dua periode meninggalkan begitu banyak warisan kegagalan
"Pak Jokowi selama hampir 10 tahun terbukti pertumbuhan ekonomi itu menurun, periode pertama 5 persen, periode kedua 3,5 persen," kata Faisal
Ia melanjutkan, tidak hanya pertumbuhan ekonomi yang terjun bebas, tapi juga hutang Indonesia yang terus naik, dari 3000 trilyun menjadi 8000 trilyun.
"Saking banyaknya hutang kita, pemerintah sampai gak punya uang untuk bayar bunga hutang, jadi buat bayar bunga hutang harus dengan hutang lagi," lanjutnya.
Faisal Basri juga menyoroti pernyataan Gibran Rakabuming Raka dalam debat cawapres beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa Indonesia mandiri dan berdikari terkait Gula.
"Gibran kemarin sengak banget bilang mandiri gula, padahal di jaman bapaknya Indonesia jadi pengimpor gula terbesar di dunia, mandiri apanya," ujarnya.
Lebih lanjut Faisal menjelaskan, bahwa pada tahun 1937 Indonesia merupakan negara pengekspor gula terbesar kedua setelah Kuba. Ironisnya, sekarang bukan lagi pengekspor terbesar namun pengimpor terbesar gula di dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!