Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026 Kertajati Disiapkan Jadi MRO Pesawat Tempur TNI 20 Aug 2026 Bandung Creative Hub, Ruang Gratis Lahirkan Talenta Kreatif 20 Aug 2026 Peraturan Dana Jurnalisme Didorong Segera Disahkan Dewan Pers 20 Aug 2026 Cetak Generasi Petani Masa Depan, University of Melbourne Gandeng IPB dan UGM 20 Aug 2026 tridorian Buka Experience Center Gemini Enterprise di Singapura 20 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 21 Agustus 2026 21 Aug 2026 Sustainability Shift Buka Peluang Baru di Lima Sektor Strategis Indonesia 20 Aug 2026 Kertajati Disiapkan Jadi MRO Pesawat Tempur TNI 20 Aug 2026 Bandung Creative Hub, Ruang Gratis Lahirkan Talenta Kreatif 20 Aug 2026 Peraturan Dana Jurnalisme Didorong Segera Disahkan Dewan Pers 20 Aug 2026 Cetak Generasi Petani Masa Depan, University of Melbourne Gandeng IPB dan UGM 20 Aug 2026 tridorian Buka Experience Center Gemini Enterprise di Singapura 20 Aug 2026

Mahasiswa Perlu Waspada Hepatitis A, Kebersihan Jadi Kunci

ED
PN
Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:51 WIB
Bagikan
Mahasiswa Perlu Waspada Hepatitis A, Kebersihan Jadi Kunci

VISI.NEWSAktivitas mahasiswa yang padat dan mobilitas tinggi membuat perhatian terhadap kebersihan makanan, air, serta tangan menjadi semakin penting. Kebiasaan makan di berbagai tempat, menggunakan fasilitas bersama, hingga beraktivitas dari satu lokasi ke lokasi lain dapat meningkatkan paparan terhadap berbagai faktor risiko penyakit menular, termasuk hepatitis A.

Hepatitis A merupakan infeksi yang menyerang organ hati. Penyakit ini dapat menular melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi virus. Risiko penularan juga berkaitan erat dengan kebersihan tangan dan kondisi sanitasi lingkungan.

Kelompok dewasa dapat mengalami gejala hepatitis A yang lebih berat dibandingkan anak-anak. Karena itu, kelompok usia produktif, termasuk mahasiswa, perlu memahami cara penularan dan langkah pencegahannya sejak dini.

Mahasiswa memiliki pola aktivitas yang membuat mereka cukup sering bersentuhan dengan lingkungan dan makanan dari berbagai sumber. Aktivitas kuliah, organisasi, kegiatan kampus, hingga pertemuan sosial membuat mahasiswa memiliki mobilitas yang relatif tinggi.

Kebiasaan makan di luar rumah juga menjadi bagian dari keseharian banyak mahasiswa. Ketika makanan atau minuman dikonsumsi tanpa memperhatikan kebersihan pengolahan dan penyajiannya, risiko terpapar virus dapat meningkat.

Kondisi serupa dapat terjadi ketika mahasiswa makan atau minum bersama dalam satu lingkungan. Kebersihan tangan sebelum makan menjadi salah satu kebiasaan sederhana yang penting untuk dipertahankan, terutama setelah menggunakan fasilitas umum atau beraktivitas di luar ruangan.

Selain perilaku individu, kondisi sanitasi juga memiliki peran penting dalam pencegahan hepatitis A. Pengelolaan air, kebersihan tempat makan, serta proses pengolahan dan penyimpanan makanan perlu diperhatikan untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi.

Kesadaran tersebut menjadi semakin penting di lingkungan pendidikan yang dihuni oleh banyak orang dengan aktivitas yang beragam. Kampus bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan, tetapi juga ruang interaksi sosial yang memungkinkan penyebaran penyakit apabila kebersihan dan pencegahan tidak diperhatikan.

Upaya meningkatkan kesadaran terhadap hepatitis A juga dilakukan melalui edukasi dan vaksinasi. Dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia 2026 dengan tema global “Let’s Break It Down”, Etana menggelar rangkaian kegiatan edukasi dan vaksinasi hepatitis A di sejumlah institusi pendidikan kesehatan dan rumah sakit.

Hingga pelaksanaan kegiatan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), tercatat sebanyak 570 peserta telah menerima vaksinasi. Rangkaian kegiatan tersebut masih berlanjut setelah pelaksanaan agenda di FK-KMK UGM.

Di FK-KMK UGM, kegiatan dilaksanakan dalam bentuk seminar sekaligus vaksinasi. Sebanyak 375 dosis vaksin diberikan kepada sivitas akademika yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi tempat strategis untuk memperluas edukasi mengenai pencegahan hepatitis. Kampus memiliki akses langsung terhadap kelompok usia produktif yang memiliki tingkat mobilitas dan aktivitas sosial cukup tinggi.

Director Anti-Infectious and Vaccine Business Unit Etana, Indra Lamora, mengatakan perlindungan terhadap hepatitis A membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurut dia, edukasi dan vaksinasi perlu dilakukan secara bersama-sama agar jangkauan perlindungan masyarakat semakin luas.

Kebutuhan perlindungan terhadap hepatitis A memang nyata, dan kami percaya edukasi serta vaksinasi tidak bisa dikerjakan sendirian,” ujar Indra.

Ia mengatakan Etana terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas olahraga, dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut dinilai dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap vaksin sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan penyakit.

Menurut Indra, upaya memperkuat perlindungan terhadap hepatitis juga menjadi bagian dari pembangunan ketahanan kesehatan masyarakat. Edukasi diperlukan agar masyarakat memahami risiko, sedangkan vaksinasi dapat menjadi salah satu langkah perlindungan bagi kelompok yang sesuai dengan rekomendasi medis.

Dari lingkungan akademik, Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K), dari UGM, menilai kampus dapat menjalankan fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat belajar.

Menurut dia, lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang percontohan untuk membangun kesadaran kesehatan. Edukasi mengenai penyakit menular dapat diberikan bersamaan dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Vaksinasi, lanjutnya, juga dapat dipandang sebagai bentuk investasi kesehatan untuk memberikan perlindungan dalam jangka panjang, khususnya bagi generasi muda.

Namun, pencegahan hepatitis A tidak hanya bergantung pada vaksinasi. Kebiasaan sehari-hari tetap memiliki peran penting dalam mengurangi risiko penularan. Mencuci tangan dengan benar, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan fasilitas umum, perlu menjadi bagian dari rutinitas.

Keamanan makanan dan air juga harus diperhatikan. Masyarakat perlu memastikan makanan dikonsumsi dalam kondisi aman dan berasal dari sumber yang menjaga kebersihan proses pengolahan. Air yang digunakan untuk minum maupun mengolah makanan juga perlu dipastikan kebersihannya.

Bagi mahasiswa, langkah tersebut menjadi semakin relevan karena kehidupan kampus sering kali diikuti mobilitas tinggi. Aktivitas di ruang kelas, kantin, organisasi mahasiswa, tempat tinggal, hingga berbagai kegiatan di luar kampus membuat mahasiswa perlu menjaga kebersihan secara konsisten.

Edukasi mengenai hepatitis A di lingkungan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seminar atau vaksinasi. Pengetahuan yang diperoleh perlu diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari, baik ketika berada di kampus maupun di luar lingkungan pendidikan.

Dengan kombinasi edukasi, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, perhatian terhadap keamanan makanan dan air, serta vaksinasi sesuai anjuran tenaga kesehatan, risiko hepatitis A dapat ditekan.

Momentum Hari Hepatitis Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa pencegahan penyakit tidak hanya menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan. Perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun lingkungan yang lebih aman.

Bagi mahasiswa yang memiliki aktivitas dan mobilitas tinggi, langkah pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Menjaga kebersihan tangan, memilih makanan dan minuman dengan lebih cermat, memperhatikan sanitasi, serta mencari informasi kesehatan dari sumber tepercaya merupakan bagian penting dari perlindungan diri.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan di tengah kesibukan akademik bukan hanya berkaitan dengan menghindari penyakit, tetapi juga memastikan mahasiswa tetap dapat menjalani proses belajar dan aktivitas sosial secara optimal.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.