Luka Baru di Sumatera: Warga Terisolir dan Tanpa Bantuan
Warga Aceh Tamiang Minum Air Keruh untuk Bertahan
Kondisi lebih memilukan dialami warga Aceh Tamiang. Minimnya logistik membuat sebagian pengungsi terpaksa meminum air genangan dan air sungai yang keruh.
“Kami dari kemarin minum air keruh dari sungai, tolong kami bang,” kata Rizki, pengungsi dari Kejuruan Muda, melalui sambungan telepon.
Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang, Agusliayana Devita, membenarkan kondisi tersebut. “Akses masih terputus, bantuan belum masuk sempurna. Pengungsi yang terisolir memilih meminum air hujan yang keruh,” jelasnya.
Kerusakan Lingkungan Dinilai Memperparah Bencana
Pemerintah pusat menyoroti faktor perusakan lingkungan yang memperparah dampak banjir dan longsor. Seskab Teddy Indra Wijaya mengatakan bahwa bencana kali ini tak hanya dipicu cuaca ekstrem.
“Tentunya ada faktor kerusakan lingkungan yang memperparah bencana. Ini menjadi perhatian serius pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno menegaskan pemerintah telah turun ke lapangan untuk menelusuri tumpukan gelondongan kayu yang terbawa arus. “Satgas penertiban kawasan hutan sudah turun tangan, menelusuri dugaan pelanggaran lewat analisis citra,” katanya.
Evakuasi Terus Berjalan, Status Bencana Masih Dipertanyakan
Hingga kini, tim SAR gabungan masih menyisir wilayah terdampak untuk mengevakuasi korban dan membuka akses jalan. Namun tanpa penetapan status bencana nasional, berbagai pihak menilai respons pemerintah terhambat dari sisi anggaran dan koordinasi.
Di tengah belum pastinya status tersebut, warga di banyak titik masih berjuang hidup: sebagian dengan durian, sebagian dengan air keruh, dan sebagian lainnya masih menunggu kehadiran bantuan pertama. @fajar
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!