Literasi Digital Disorot Usai Penahanan Mahasiswi ITB, Kemenristek Ajak Kampus Evaluasi Diri
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 12 Mei 2025 | 18:00 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, merespons penangkapan mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) berinisial SSS yang sempat menjadi tersangka dalam kasus unggahan meme kontroversial mengenai Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo.
"Mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan peristiwa sebagai refleksi kolektif akan pentingnya kebijaksanaan dalam bermedia sosial, serta peran kampus dalam membina karakter kebangsaan dan kedewasaan berpikir," ujar Brian dalam pernyataan tertulis, Senin (12/5/2025).
Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi tak sekadar menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang aman untuk pertumbuhan nilai integritas, kepekaan sosial, dan literasi digital yang etis dan bertanggung jawab.
Kasus yang menjerat SSS bermula dari unggahan meme yang menggambarkan Presiden Prabowo dan Jokowi berciuman. Atas unggahan itu, SSS dijerat Pasal-pasal dalam Undang-Undang ITE yang mengatur soal konten asusila dan manipulatif. Namun, Polri kemudian menangguhkan penahanannya setelah mempertimbangkan sejumlah faktor.
Menurut Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, penangguhan dilakukan setelah pihak keluarga dan penasihat hukum mengajukan permohonan. SSS juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada kedua tokoh tersebut dan kepada ITB.
“Juga berdasarkan atas iktikad niat baik dari tersangka dan keluarganya untuk memohon maaf karena telah terjadi kegaduhan,” ujar Trunoyudo.
Sebelumnya, orang tua SSS telah menemui pihak ITB dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!