Literasi Digital Bisa Buka Potensi Ekonomi Global US$3,5 Triliun

ED
PN
Sabtu, 12 September 2026 | 07:22 WIB
Bagikan
Literasi Digital Bisa Buka Potensi Ekonomi Global US$3,5 Triliun

Laporan GSMA Intelligence dan Huawei mengungkap kesenjangan digital yang masih dialami 3,1 miliar orang. /visi.news/ist

VISI.NEWS — Kesenjangan literasi digital menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya membawa miliaran orang masuk ke ekonomi digital. Laporan terbaru GSMA Intelligence bersama Huawei mengungkapkan bahwa sekitar 3,1 miliar orang di dunia masih berada dalam kesenjangan penggunaan internet, meskipun sebagian besar dari mereka sebenarnya telah berada dalam jangkauan jaringan broadband seluler.

Laporan bertajuk “Bridging the Divide: Enhancing Digital Literacy in the AI Era” tersebut diluncurkan dalam rangkaian UNESCO Digital Learning Week. Temuan utamanya menunjukkan bahwa persoalan dunia digital saat ini tidak lagi semata-mata mengenai ketersediaan jaringan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk menggunakan teknologi secara efektif, aman, dan percaya diri.

Secara global, cakupan broadband seluler telah mencapai sekitar 96 persen populasi. Namun, sekitar 38 persen penduduk dunia yang telah tercakup jaringan broadband seluler tetap belum menggunakan internet. Rendahnya keterampilan digital, kurangnya kepercayaan terhadap teknologi, serta minimnya pemahaman mengenai kecerdasan buatan (AI) menjadi sejumlah faktor yang membuat masyarakat tetap offline.

Kesenjangan penggunaan tersebut bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat besar. Laporan GSMA Intelligence menyebutkan bahwa penutupan kesenjangan kapabilitas digital berpotensi memberikan tambahan sekitar US$3,5 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) global hingga 2030. Lebih dari 90 persen potensi keuntungan ekonomi tersebut diperkirakan mengalir ke negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (LMICs).

Artinya, peningkatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi digital dan AI berpotensi menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.

Kesenjangan tersebut juga menunjukkan perubahan karakter kesenjangan digital. Pada tahap awal perkembangan internet, persoalan utama adalah apakah seseorang memiliki akses terhadap jaringan. Kini, ketika cakupan jaringan semakin luas, tantangannya bergeser menjadi apakah seseorang mampu dan mau menggunakan teknologi tersebut.

Kemunculan AI membawa peluang baru untuk mengurangi kesenjangan tersebut. Namun, teknologi yang sama juga berpotensi memperlebar ketimpangan apabila masyarakat tidak dibekali keterampilan yang memadai.

Asisten suara berbasis AI serta aplikasi yang mampu memproses gambar, audio, dan video dapat membantu masyarakat dengan tingkat literasi rendah. Mereka tidak selalu harus mengetik atau memahami instruksi berbasis teks untuk berinteraksi dengan teknologi.

Di sisi lain, penggunaan AI juga menciptakan tuntutan baru. Masyarakat perlu memahami bagaimana data pribadi digunakan, mengenali penipuan digital, memeriksa kebenaran informasi, serta membedakan konten asli dengan manipulasi seperti deepfake.

Dengan demikian, kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan mengetahui cara mengoperasikan sebuah aplikasi. Pengguna juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran keamanan digital.

Data yang dikutip dalam laporan dari World Bank bahkan menunjukkan bahwa literasi GenAI merupakan kategori keterampilan dengan nilai ekonomi tinggi. Penguasaan keterampilan tersebut dikaitkan dengan premi upah hingga 36 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan imbal hasil yang terkait dengan keterampilan digital maupun keterampilan AI tradisional.

Para penulis laporan memperingatkan bahwa adopsi AI yang berlangsung cepat tanpa intervensi yang ditargetkan pada pelatihan digital dasar dapat memperkuat ketimpangan yang sudah ada.

Kondisi ini dapat terjadi bahkan di wilayah yang telah memiliki jaringan telekomunikasi lengkap. Masyarakat mungkin memiliki akses terhadap internet, tetapi tidak mampu memanfaatkannya untuk pendidikan, pekerjaan, layanan publik, bisnis, maupun aktivitas ekonomi lainnya.

Kelompok yang dinilai paling rentan terhadap eksklusi digital antara lain masyarakat di wilayah pedesaan dan terpencil, anak-anak serta guru di sekolah pedesaan, kelompok lanjut usia, serta perempuan dan anak perempuan.

Karena itu, laporan tersebut menekankan pentingnya model pembelajaran berbasis komunitas yang dapat mendekatkan pelatihan langsung kepada masyarakat.

Salah satu contoh yang disoroti dalam laporan adalah program Skills on Wheels dari Huawei, khususnya DigiTruck, ruang kelas digital bergerak bertenaga surya yang dirancang untuk membawa perangkat teknologi, konektivitas, serta pelatihan langsung ke wilayah yang sulit terjangkau.

Program tersebut tidak hanya mengajarkan keterampilan digital dasar, tetapi juga mulai memasukkan literasi AI ke dalam materi pelatihannya.

Sejak 2019, berbagai proyek Skills on Wheels disebut telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 130.000 orang di 21 negara, dengan manfaat yang menjangkau masyarakat lain secara tidak langsung.

Model tersebut juga mengandalkan efek penyebaran keterampilan di dalam komunitas. Peserta pelatihan didorong untuk membagikan pengetahuan yang mereka peroleh kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Laporan dari Kementerian Informasi, Komunikasi, dan Ekonomi Digital Kenya yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa 79 persen peserta DigiTruck yang disurvei menyatakan telah meneruskan keterampilan digital yang mereka dapatkan kepada anggota keluarga dan rekan mereka.

Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan digital tidak harus berhenti pada peserta yang hadir di ruang kelas. Ketika pengetahuan ditularkan melalui keluarga dan komunitas, dampaknya dapat berkembang lebih luas.

Untuk mengatasi kesenjangan penggunaan internet sekaligus mempersiapkan masyarakat menghadapi ekonomi berbasis AI, laporan tersebut menyerukan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, operator telekomunikasi, perusahaan teknologi, dan organisasi masyarakat.

Pemerintah didorong menjadikan literasi AI, keamanan digital, dan kemampuan memverifikasi informasi sebagai keterampilan dasar di tingkat nasional. Layanan publik digital juga perlu menggunakan antarmuka suara dan percakapan multibahasa agar dapat diakses masyarakat dengan kemampuan membaca dan mengetik yang beragam.

Selain itu, model pembelajaran bergerak dinilai perlu diperluas melalui kerja sama lintas sektor. Pemerintah, operator telekomunikasi, perusahaan teknologi, dan organisasi nonpemerintah dapat menggabungkan konektivitas, perangkat, teknologi, serta jaringan komunitas untuk membawa pelatihan ke daerah yang sulit dijangkau.

Keberhasilan program juga dinilai tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah peserta pelatihan. Pengukuran perlu melihat apakah peserta benar-benar mampu menyelesaikan tugas digital secara mandiri dan memiliki ketahanan terhadap penipuan.

Kepala riset dan konsultasi GSMA Intelligence Tim Hatt mengatakan definisi literasi digital harus berkembang mengikuti perubahan teknologi.

“Connectivity alone is insufficient — capabilities, system design and trust must evolve together,” kata Hatt.

Menurutnya, peluang ekonomi bernilai triliunan dolar tersebut hanya dapat diwujudkan apabila literasi AI diintegrasikan ke dalam aktivitas sehari-hari masyarakat melalui saluran komunitas yang dipercaya.

Sementara itu, Executive Editor-in-Chief Huawei Gavin Allen menilai ruang kelas bergerak telah menunjukkan manfaat besar dalam membantu masyarakat yang selama ini menghadapi hambatan fisik maupun psikologis untuk menggunakan teknologi.

Huawei, katanya, akan terus bekerja sama dengan pemerintah lokal dan mitra industri untuk memperluas literasi digital sehingga masyarakat tidak tertinggal dalam transisi menuju ekonomi berbasis AI.

Upaya tersebut juga akan berlanjut di Eropa. Program DigiTruck baru dijadwalkan diluncurkan di Prancis pada musim gugur 2026, dengan cakupan beberapa kota di wilayah Île-de-France.

Program ini akan menyasar komunitas berpenghasilan rendah dan kelompok yang kurang terlayani, dengan memberikan pelatihan keterampilan digital secara langsung.

Peluncuran tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan literasi digital bukan semata persoalan negara berkembang. Ketika teknologi AI berkembang semakin cepat, masyarakat di berbagai negara tetap membutuhkan kemampuan baru agar dapat memanfaatkan teknologi sekaligus terlindungi dari risiko yang menyertainya.

Pada akhirnya, laporan GSMA Intelligence dan Huawei menegaskan bahwa menyediakan jaringan internet hanyalah langkah pertama. Agar miliaran orang benar-benar memperoleh manfaat ekonomi dari transformasi digital dan AI, akses harus diikuti oleh keterampilan, kepercayaan, keamanan, dan kemampuan menggunakan teknologi secara mandiri.

Jika kesenjangan tersebut berhasil ditutup, manfaatnya bukan hanya berupa lebih banyak orang yang online, tetapi juga potensi US$3,5 triliun tambahan bagi ekonomi global hingga 2030, dengan negara-negara berpendapatan rendah dan menengah sebagai penerima manfaat terbesar.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.