Kunjungi Bandung, Shah Alam Belajar Kelola Sampah Mandiri
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 6 Agustus 2025 | 19:30 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Pengelolaan sampah menjadi tantangan utama bagi kota-kota besar di dunia, tak terkecuali Kota Bandaraya Shah Alam, Malaysia. Untuk mencari solusi konkret, Pemerintah Kota Shah Alam melakukan kunjungan kerja ke Kota Bandung, Indonesia, guna mempelajari sistem pengelolaan sampah mandiri yang telah diterapkan di berbagai wilayah.
Wali Kota Bandaraya Shah Alam, Dato’ Haji Mohd Fauzi Bin Haji Mohd Yatim, menyampaikan kekagumannya terhadap konsep pengelolaan mandiri yang dikembangkan Pemerintah Kota Bandung. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas yang diterapkan Bandung dapat menjadi solusi bagi masalah serupa di negaranya.
“Kita akan coba belajar dan menerapkan sistem terbaik dari Kota Bandung. Konsep pengelolaan mandiri ini sangat baik, dan kami akan kunjungi KBS (Kawasan Bebas Sampah) yang direkomendasikan,” ujarnya saat pertemuan di Balai Kota Bandung, Rabu (6/8/2025).
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, dalam kesempatan tersebut memperkenalkan dua program unggulan, yakni Kawasan Bebas Sampah (KBS) dan Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis). Keduanya dinilai berhasil menciptakan lingkungan yang sehat dan produktif melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Salah satu contoh nyata adalah KBS Jasmine Integrated Farming di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah. Di kawasan tersebut, warga berhasil mengolah sampah organik langsung dari rumah tangga, memperkuat ketahanan pangan lokal, serta menghasilkan nilai ekonomi dari hasil pengolahan tersebut.
Ia menargetkan pada 2026, Kota Bandung akan memiliki 700 KBS di tingkat RW. Dengan pengelolaan sampah tuntas di level komunitas, Bandung diharapkan tidak lagi bergantung pada keberadaan TPA.
Mayoritas sampah di Bandung berasal dari plastik dan sisa makanan. Untuk itu, Pemkot mengembangkan pengolahan sampah organik menggunakan maggot, yang hasilnya digunakan untuk membuat kompos dan pakan ikan. Kompos tersebut mendukung program Buruan SAE, yaitu pertanian kota di halaman rumah warga.
“Dari sampah, kita dapat pupuk. Dari maggot, bisa jadi pakan ikan lele. Kita pelihara lele di ember lewat metode budikdamber. Semua saling terhubung” papar Erwin.
Tak hanya itu, Bandung juga menerapkan metode Loseda (Lobang Sesa Dapur), yakni lubang kecil di pekarangan untuk membuang sisa makanan secara alami tanpa menimbulkan bau atau limbah berbahaya, bahkan bisa menyuburkan tanah.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa kerja sama lintas negara dan pertukaran pengetahuan dapat membuka jalan bagi pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan dan partisipatif.
@ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!