Kultum TPIHI Widayanti, "Sebagai Dosen Matematika, Ada Rumus Ibadah Haji"

ED
Jumat, 23 Mei 2025 | 07:42 WIB
Bagikan
Kultum TPIHI Widayanti, "Sebagai Dosen Matematika, Ada Rumus Ibadah Haji"

VISI.NEWS | MEKKAH – Di hadapan jemaah haji Kloter 10 asal Purwakarta yang tengah menginap di Hotel Burj Al Wahdah Al Mumtamayiz, Widayanti, petugas TPIHI, menyampaikan kultum singkat namun penuh makna. Dengan rendah hati, ia mengawali ceramahnya dengan permohonan izin bahwa kultum hanya berlangsung tujuh menit, sebagai bagian dari tugas yang diamanahkan sektor.

Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Widayanti menyampaikan rasa hormat kepada para petugas sektor yang telah bekerja nyaris 24 jam penuh. Ia juga menyampaikan salam hangat kepada seluruh jemaah haji yang dinilainya sangat disiplin, ramah, dan bersemangat dalam menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Widayanti menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menggurui, melainkan sekadar menjalankan tugas sambil berbagi semangat. “Saya bukan yang paling tahu,” ujarnya dengan senyum. Ia pun membuka kultum dengan pembacaan basmalah, berharap pertemuan singkat itu membawa keberkahan.

Menggunakan pendekatan yang unik, ia membagikan "rumus" haji yang mudah diingat. "Sebagai dosen Matematika, maka ada rumus ibadah haji 3B yakni bersihkan niat, benar dalam pelaksanaan, dan baik dalam akhlak," ujarnya. Ia menekankan pentingnya menjaga niat agar semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipanggil "Pak Haji" atau "Bu Haji" sekembalinya ke tanah air.

Selanjutnya, Widayanti mengingatkan pentingnya menjaga suasana kamar dan lingkungan selama 30 hari di Mekkah. Dengan kamar yang diisi empat hingga lima orang, potensi gesekan sangat mungkin terjadi. Ia menasihati agar jemaah menjauhi “rapas, khusup, dan jidah”, atau dalam bahasa lain: omelan, bisik-bisik negatif, dan pertengkaran.

Dalam suasana ceramah yang interaktif, ia sempat mengajak para jemaah menyanyikan lagu ringan tentang rukun haji, agar materi lebih mudah diingat dan suasana menjadi lebih ceria. "Biar semangat, biar ceria!" ujarnya, disambut senyum para jemaah.

Tak lupa ia menyinggung pentingnya memahami perbedaan antara rukun dan wajib haji. Ia mengingatkan bahwa jika salah satu rukun tidak dilaksanakan, maka hajinya tidak sah. Sementara jika wajib haji terlewat, harus diganti dengan dam (denda).

Widayanti juga mengedukasi para jemaah mengenai kebijakan baru Kemenag untuk membantu lansia, yaitu murur dan tanazul. Melalui dua kebijakan ini, jemaah lansia yang sakit atau tidak mampu secara fisik bisa tetap menyempurnakan haji tanpa kelelahan ekstrem, karena dibantu dengan metode tertentu seperti bus murur atau pengurangan keikutsertaan saat mabit di Mina.

Menutup kultumnya, Widayanti menyampaikan permohonan maaf jika ada kesalahan dalam tutur kata dan menyampaikan terima kasih atas perhatian jemaah. “Kalau ada apa-apa, Kloter 10 bisa diskusi dengan saya,” ujarnya, menandai akhir dari kultum yang singkat namun berkesan di jantung kota suci Mekkah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.