VISI.NEWS | BANDUNG - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menandatangani nota kesepahaman dengan berbagai perguruan tinggi guna mempercepat pengentasan kemiskinan di Jawa Barat. Hal itu dilakukan agar program yang diberikan lebih terarah, terpadu, berkelanjutan, dan efektif sehingga kesejahteraan sosial meningkat secara signifikan.
Saat memaparkan rumusan kerja sama yang akan dijalin bersama perguruan tinggi, Bandung, (7/3/2025), Gus Ipul mengatakan kerjasama dapat direncanakan dengan baik berdasarkan kajian dari perguruan tinggi, serta disusun intervensi yang mendukung dan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
"Kita
tahu universitas itu punya lembaga pengabdian
masyarakat. Dan memang banyak sekali yang sudah mereka lakukan. Tapi kita ingin sekarang ini
kerja sama, kemudian nanti direncanakan dengan baik, sesuai dengan kajian yang perguruan tinggi lakukan. Lalu kemudian kita susun intervensinya. Dampingannya itu berkelanjutan," kata Gus Ipul dikutip dari laman
resmi Mensos, Sabtu (8/3/2025).
Perguruan tinggi tersebut yaitu Institut
Teknologi Bandung, Institut
Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, Universitas
Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Siliwangi
Tasikmalaya, Universitas
Bhayangkara Jakarta Raya
Bekasi, Universitas Pasundan Bandung, Universitas
Islam Bandung, Universitas Khatolik Parahyangan Bandung, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, dan Universitas Maranatha Bandung.
Gus Ipul memberikan contoh bentuk kerja sama yang dilakukan adalah dengan mengerahkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh
kampus dapat berfokus di satu
desa.
"Kita mulai dari memilih satu desa yang tinggi jumlah masyarakat miskin dan miskin ekstremnya, setelah itu kita akan susun rencana intervensi secara bersama-sama," kata Gus Ipul.
"Melalui pemberdayaan sirkuler seperti pengeringan dan pengolahan
pangan daun stevia, pengeringan lemon, dan pengolahan kotoran sapi menjadi biogas. Itu semua bisa menggerakan ekonomi lokal setempat," kata Lienda.
Menurut Gus Ipul, dalam praktiknya terdapat program potensial yang dapat dikolaborasikan bersama perguruan tinggi yaitu program Kampung Anti Miskin dan
Sekolah Rakyat. Khusus pada Program Kampung Anti Miskin, Gus Ipul menekankan program akan difokuskan pada target
penurunan kemiskinan
ekstrem yang terdapat di
Jawa Barat.
"Sebanyak 52,45 persen penduduk miskin berada di tiga provinsi
Jawa Timur, Jawa Barat, dan
Jawa Tengah. Kalau kita bisa menurunkan kemiskinan di tiga provinsi itu, termasuk Jawa Barat, kemiskinan
nasional bisa diturunkan sebesar 50 persen," kata Gus Ipul.
Ia menambahkan, secara nasional, target kemiskinan ekstrem menjadi 0 persen secepat-cepatnya dapat dicapai di tahun 2025, dan selambatnya di tahun 2026. Oleh karena itu, menjadi hal yang krusial untuk mewujudkan
kolaborasi bersama perguruan tinggi dalam menjalankan program-program pengentasan kemiskinan di Jawa Barat.
"Bisa melalui
pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat, itu semua terencana dengan baik. Sehingga kita ingin paling tidak di desa itu tidak ada lagi orang yang nganggur, tidak ada lagi yang miskin. Karena semua kreatif, semua memanfaatkan sumber daya yang ada," ucap Gus Ipul.
Gus Ipul juga berpesan agar program yang terlaksana dapat berkelanjutan sehingga benar-benar bisa mewujudkan kampung yang mandiri.
Ia turut mengingatkan kerja sama yang terbangun harus tetap berada pada koridor yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan serta bersifat mengintegrasikan program
pemerintah dan nonpemerintah.
"Ga usah pakai ego sektoral karena itulah yang menghambat kerja kita selama ini. Mari kita gempur sama-sama," ucap Gus Ipul. @desi