Kolak, Lebih dari Sekadar Takjil : Sejarah dan Filosofinya
Editor
Desi Rossilawati
Sabtu, 8 Maret 2025 | 01:55 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Kolak menjadi salah satu hidangan khas yang hampir selalu hadir di meja berbuka puasa. Hidangan manis ini biasanya terdiri dari pisang, ubi, singkong, kolang-kaling, serta bahan lain yang dimasak dengan gula aren dan santan.
Sejarah mencatat bahwa makanan sejenis kolak sudah ada sejak zaman Kerajaan Hindu-Buddha. Prasasti Watukura dari tahun 902 Masehi menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno telah mengonsumsi makanan berbasis gula aren yang dicampur dengan berbagai bahan lain.
Mengutip situs Historia, asal-usul kata "kolak" diyakini berasal dari bahasa Arab kul laka, yang berarti 'makanlah'. Ada juga teori lain yang menyebut kata tersebut berasal dari bahasa Arab khalaqa, yang berarti 'menciptakan'.
Namun, lebih dari sekadar makanan, kolak adalah hasil perpaduan budaya Nusantara dan Timur Tengah. Budaya Timur Tengah yang cenderung menyukai makanan manis berpadu dengan bahan-bahan khas Indonesia seperti santan, ubi, dan pisang, menciptakan hidangan yang kini menjadi bagian dari tradisi Ramadan.
Selain itu, kolak juga memiliki makna filosofis tersendiri. Misalnya, penggunaan pisang kepok dalam kolak dikaitkan dengan kata 'kapok', yang bermakna jera atau tidak mengulangi kesalahan. Sementara itu, santan dari kelapa memiliki makna spiritual sebagai simbol rasa syukur, karena kelapa dikenal sebagai 'pohon kehidupan' yang seluruh bagiannya bermanfaat bagi manusia.
Sejarawan Fadly Rahman menjelaskan bahwa pohon kelapa memiliki peran penting dalam budaya Nusantara. Pohon ini disebut sebagai the tree of life atau 'pohon kehidupan', karena hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Dengan demikian, kolak bukan sekadar makanan berbuka puasa. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!