Kisah Seorang yang Berburuk Sangka dan 40 Kuda Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Dari kisah di atas dapat dipetik beberapa pelajaran: 1. Syekh Abdul Qadir adalah seorang yang telah mencapai derajat kewalian yang tinggi, sehingga menyandang gelar “Sulthanul-Aulia” alias rajanya para wali. 2. Karena keluhuran derajatnya, Syekh Abdul Qadir memiliki karamah yang luar biasa. Salah satunya karamah menyelamatkan orang-orang yang mencintainya. 3. Hadirnya para wali di majelis-majelis mulia dan nyatanya pertolongan mereka kepada orang-orang yang berwasilah dengan mereka. 4. Zuhud bukan berarti menolak dunia, melainkan tidak bergantungnya hati pada dunia dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Justru dengan zuhud, dunia menjadi sarana mencapai rida Allah. Sebab, kunci zuhud terletak pada ketidaktertarikan hati pada dunia, bukan pada banyaknya harta. 5. Betapa murahnya hati Syekh Abdul Qadir, sampai-sampai merelakan 40 ekor kudanya untuk mengobati orang yang mencintainya. Sikap itu sekaligus mementahkan prasangka buruk terhadap dirinya sebagai pecinta dunia yang jauh dari sifat zuhud. 6. Tidak boleh berburuk sangka kepada sesama manusia, sebab boleh jadi ia adalah wali atau kekasih Allah. Sementara dari wali-wali Allah banyak perkara luar di luar nalar sebagai bentuk karamahnya. Wallahu ‘alam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!